Biji Wijen dan Wasabi Tumbuh dengan Cara Unik untuk Hasilkan Biji dan Umbi (2)

Biji Wijen dan Wasabi Tumbuh dengan Cara Unik untuk Hasilkan Biji dan Umbi (2)

- detikFood
Minggu, 26 Jan 2014 11:31 WIB
Biji Wijen dan Wasabi Tumbuh dengan Cara Unik untuk Hasilkan Biji dan Umbi (2)
Foto: Getty Images
Jakarta -

6. Nanas

Foto: Getty Images
Walaupun tak mempunyai biji dan tunas sebagai alat untuk berkembang biak, nanas tetap mudah ditanam dengan menggunakan β€œmahkota”. Nanas membutuhkan waktu yang lama untuk bisa dinikmati buahnya. Diperlukan sekitar 12-24 bulan untuk mendapatkan stok buah nanas yang banyak. Tetapi jika di kebun, pohon nanas itu dapat berkembang biak sendiri.

7. Kiwi

Foto: Getty Images
Jika selama ini kiwi terkenal berasal dari Selandia Baru, buah dengan daging berwarna hijau ini ternyata berasal dari China, dari lembah sungai Yangtze di bagian utara. Baru pada tahun 1904 dibawa ke Selandia Baru sebagai buah baru untuk dikembangkan. Kiwi sebenarnya adalah buah beri yang dapat menghasilkan buah bagus jika melewati proses yang sulit. Tanaman jantan dan betina harus ditanam berdekatan dan buah ini sangat sensitif terhadap perubahan cuaca. Buah kiwi juga sulit dalam tahap penyerbukan karena lebah seringkali tidak tertarik dengan bunganya.

8. Wijen

Foto: Getty Images
Bisa jadi wijen adalah tanaman tertua yang pernah hidup di bumi. Tanaman ini diperkirakan berumur sekitar 5.000 tahun. Tentara Romawi terkenal gemar memakannya untuk mengisi perut kosong. Tumbuh dalam pohon 5-6 meter, wijen memiliki daun lebar untuk mengumpulkan sinar matahari. bunganya berbentuk lonceng yang berisi wijen di dalamnya. Wijen telah menjadi konsumsi dunia, khususnya daerah Timur Tengah dan Asia, apalagi Korea.

9. Saffron

Foto: Getty Images
Saffron sejauh ini adalah bumbu yang paling mahal di dunia. Mungkin hal itu karena putik kering yang diambil dari bunga saffron harus terkumpul sekitar 75.000 buah bunga untuk 500 g saffron. Apalagi, harus diambil cara manual, dengan menggunakan tangan. Untungnya, saffron hanya digunakan sedikit saja dalam masakan, karena jika terlalu banyak akan membuat makanan pahit. Suku Mesir zaman dahulu menggunakannya juga untuk mewarnai pakaian.
Halaman 2 dari 5
(fit/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads