Maaf! Di Toko Roti Khusus Anak-anak Ini, Orang Dewasa Tidak Boleh Masuk!

Maaf! Di Toko Roti Khusus Anak-anak Ini, Orang Dewasa Tidak Boleh Masuk!

Fitria Rahmadianti - detikFood
Senin, 20 Jan 2014 13:33 WIB
Foto: Nikkei
Jakarta -

Jika bepergian dengan orang dewasa, anak-anak sering dilarang membeli camilan ini-itu. Namun, di toko roti satu ini, mereka bebas berkeliling tanpa pengawasan orangtua. Seperti surga bagi si kecil!

Pada 7 Desember lalu, Future Sweets Factory dibuka di kota Sanda, prefektur Hyogo, Jepang. Toko roti besar ini berlokasi di sebelah gedung patisserie Es Koyama yang menjual beragam kue dan terkenal akan roll cake spesialnya.

Namun, Future Sweets Factory unik karena hanya anak-anak maksimal kelas enam SD yang boleh masuk! Orangtua yang mengantar hanya boleh menunggu di pintu masuk berbentuk telur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sambil menunggu si kecil menjelajahi toko, orang dewasa bisa mencoba biskuit susu empuk Matteru buatan toko kue tersebut. Biskuit ini dijual di vending machine dengan harga 500 yen (Rp 58.300) per kemasan karton susu isi tiga buah. Ada rasa plain dengan isian susu-mentega serta cokelat dengan isi karamel dan cokelat Ekuador.

Setelah melewati tanda 'orang dewasa dilarang masuk' dan pintu berukuran 105 x 60 cm, anak-anak disambut dengan sampel-sampel roti yang baru dipanggang. Di dalam toko terlihat karakter-karakter kartun dan dekorasi robot.

Mereka juga dapat melihat proses pembuatan kue dan mengintip produk-produk baru sebelum dijual di toko utama. Selain itu, anak juga dapat menonton chef membuat tiga kue kejutan spesial secara langsung. Masing-masing dapat dibeli dengan harga 150 yen (Rp 17.500).

Pemilik sekaligus chef Future Sweets Factory Susumu Koyama mengatakan bahwa tujuan utamanya membangun tempat ini adalah untuk mendorong komunikasi aktif antara anak dan orangtua. Pasalnya, satu-satunya cara orang dewasa mengetahui apa yang ada di dalam toko adalah dengan mendengarkan anak-anak mereka.

"Sekarang, orang dewasa terlalu sibuk hingga tak punya waktu mendengarkan omongan anak. Akibatnya, saya merasa anak-anak sulit mengekspresikan diri. Saya ingin mengajak mereka berkomunikasi dengan mendorong sikap 'Saya mau bercerita' pada anak dan 'Saya mau mendengarkan' pada orang dewasa," tutur Koyama.

Seperti ditulis situs Rocket News 24 (18/01/2014), pria ini terkenang masa kecilnya. Dulu, ia sering bercerita tentang kejadian di sekolah kepada ibu serta om dan tante tetangganya.

"Mereka selalu mau mendengarkan. Tumbuh di lingkungan seperti inilah yang membuat saya menjadi seperti sekarang," ujar Koyama. Ia berharap bisa menghidupkan kembali atmosfer masa lalu yang menyenangkan tersebut dan menjadi pendengar untuk generasi baru.

(fit/odi)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads