Chef dari restoran peraih bintang Michelin berumur 47 tahun ini dilaporkan mengunjungi Qatar untuk mengurus usaha restorannya di hotel St. Regis di Doha.
“Ini adalah pertama kalinya saya diberhentikan oleh bea cukai, saat diinspeksi, alarm menyala dan saya digiring ke sebuah ruangan kecil. Ini pertama kali saya kehilangan Dom Pérignon. Champagne tersebut adalah hadiah dari teman saya,” tutur Gordon seperti dikutip dari ww.thebraiser.com (14/01/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Januari 2013, Gordon mengeluarkan pernyataan bahwa alasan penutupan restorannya berdasarkan pertimbangan serius dalam segi bisnis. Dengan adanya larangan tersebut, ia mengalami kerugian cukup besar dan mengakui ia lebih memilih larangan merokok dari larangan minuman alkohol.
Tapi, Gordon yakin aturan larangan alkohol di kawasan Timur Tengah akan lebih renggang mendekati World Cup yang akan diadakan tahun 2022 di Doha. “Dengan kehebohan World Cup dan perhatian media yang tertuju pada Qatar, hal ini akan berubah. Sebagai negara, Qatar berkembang secara cepat tapi ini adalah keadaan yang rumit,” tambah Gordon.
Dalam upaya untuk membatasi distribusi alkohol, pihak berwajib di Qatar mengeluarkan pernyataan tertulis kepada manajer hotel untuk melarang penjualan minuman beralkohol di area kolam renang atau pantai.
Penawaran lisensi menjual minuman alkohol pada beberapa outlet dan masyarakat non muslim banyak disetujui oleh ekspatriat yang jumlah lebih besar dari masyarakat lokal. Tapi, keputusan tersebut menimbulkan kritik dari masyarakat menentang penjualan minuman di negara muslim.
(dni/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN