Cork bottle stopper modern berbentuk tabung dengan warna cokelat terbuat dari sel kulit mati pohon cork oak. Teknik pembuatan tutup botol ini telah ditemukan di makam Mesir yang berumur ribuan tahun yang lalu. Masyarakat Yunani kuno menggunakan jala ikan, sandal, dan tutup botol.
Tutup botol berulir untuk botol wine telah diciptakan sejak 1950. Pemakaian tutup botol tersebut biasanya dihubungkan dengan tingkat harga wine. Tapi, hal tersebut berubah sekitar 10 tahun lalu saat para pembuat wine di Selandia Baru dan Australia menggunakan tutup botol berulir pada hampir semua jenis wine, termasuk yang berkualitas tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βTutup botol berulir bisa menjaga botol tertutup rapat dan tidak membiarkan oksigen masuk ke dalam, sehingga hal ini bisa menjaga kualitas wine,β tutur James Foster selaku pembuat wine di Cupcake Vineyard kepada NPR (03/01/2013).
Di sisi lain, ia menggunakan cork untuk chardonnay, carbenets, dan red velvet yang mempunyai rasa lebih kompleks. Pada wine dengan botol lebih besar dan rasa lebih kuat, oksigen yang masuk lewat tutup cork membantu melembutkan tannins sehingga lebih mudah diminum oleh para konsumen.
Walaupun tutup botol berulir mulai populer, banyak ahli wine yang menyarankan wine disimpan dengan tutup cork. Selain itu, banyak sommelier yang menganggap membuka tutup cork wine adalah ritual yang tidak tergantikan.
βIni adalah bagian dari ritual, tapi saat satu hal dalam hidup yang sudah dilakukan dalam waktu lama berubah, banyak orang sudah terbiasa,β tutur Lucas Paya selaku wine director untuk Think Food Group.
Sebagai sommelier, Lucas menyatakan saat membuka wine yang mempunyai tutup berulir, ia lebih berfokus pada elemen lainnya dalam botol wine. Ia akan lebih fokus menjelaskan tentang label dan rasa wine.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN