Setelah Alami Gangguan Makan, Demi Lovato Jadi Panutan Remaja

- detikFood Kamis, 12 Des 2013 14:16 WIB
Foto: The Gloss
Jakarta - Menjadi idola sejak usia muda memang menjadi tantangan tersendiri bagi Demi Lovato. Ia sudah memulai debut kariernya sebagai aktris cilik dalam Barney and Friends. Tak hanya dunia seni peran, ia juga mendalami kariernya di bidang tarik suara.

Namun hal itu hanya terlihat dari luar saja. Dunia hiburan yang punya tuntutan untuk harus berpenampilan sempurna membuatnya tertekan. Hal itu sampai mempengaruhi pola makannya. Ia mengaku merasa tersiksa karena hal ini.

Walaupun begitu, Demi adalah salah seorang dari sedikit para pekerja seni yang berani terus terang tentang masalah pribadinya. Ketergantungan obat, menyakiti diri sendiri, dan gangguan makan yang akut adalah beberapa hal yang banyak dialami selebriti.

Bahkan seorang Lady Gaga saja pernah berkata, “Pop Star don’t eat”—Seorang bintang tidak makan. Demi yang berusia 21 tahun ini mengaku ia telah mengalami gangguan makan sejak masih di bangku sekolah.

Gangguan makan yang dialami penyanyi lagu 'Heart Attack' ini sudah berlangsung sejak ia berumur delapan atau sembilan tahun. Ia memulainya dengan overeating atau kelebihan makanan. Ia akan memanggang banyak kue dan memakannya sendirian. Saat itu juga ia mulai tidak nyaman dengan tubuhnya sendiri.

Ia juga mulai memakan semua yang ia ingin untuk melampiaskan hasratnya dan menemukan kebahagiaan. Tak jarang ia juga memuntahkan makanan yang ia makan hanya karena ketakutannya sendiri. Membuat dirinya kelaparan, kemudian memakan banyak makanan, memuntahkannya, lalu kelaparan lagi. Ia mengaku rasanya seperti mau mati dan ia tidak bisa berpikir jernih.

Karena makanan tak dapat memuaskannya, iapun lari ke minuman beralkohol. Ia mulai menegak vodka dan sejenisnya sejak umur 19 tahun. Seakan tak cukup, ia mulai menikmati kokain. “Saya tidak bisa bertahan selama 30 menit saja tanpa kokain,” katanya jujur.

Tidak menonton dirinya sendiri di televisi adalah cara yang ditempuh Demi untuk memulai masa penyembuhannya terhadap penyakit ini. Untuk keberaniannya mengakui hal ini, Demi kemudian menjadi panutan para remaja untuk lebih menghargai diri mereka masing-masing.

(fit/odi)