Hati-hati, Sushi Ikan Tuna Bisa Mengandung Merkuri

Hati-hati, Sushi Ikan Tuna Bisa Mengandung Merkuri

Fitria Rahmadianti - detikFood
Senin, 02 Des 2013 12:46 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Konsumsi ikan memang menyehatkan. Makanya, banyak orang menyantap sushi tanpa rasa khawatir. Namun, studi yang diselenggarakan di New Jersey, Amerika Serikat, baru-baru ini menunjukkan kadar merkuri yang mengkhawatirkan dalam sushi.

Peneliti dari Rutgers University dan Robert Wood Johnson Medical School memeriksa konsumsi sushi di antara 1.289 orang yang tinggal di komunitas universitas New Jersey. Mereka juga meneliti kadar merkuri pada sampel sushi dari toko dan supermarket di New Jersey, New York City, dan Chicago.

Sebanyak 92% dari orang yang diteliti mengonsumsi ikan, rata-rata lima ikan atau hidangan sushi per bulan. Sekitar 77% responden mengatakan bahwa mereka menyantap sushi, rata-rata 3,27% hidangan sushi sebulan. Jumlah ikan dalam sushi yang dikonsumsi partisipan antara 5-25 gram.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam studi yang dimuat di Journal of Risk Research, ditemukan bahwa orang Kaukasia dan Asia (terutama Asia Timur) mengonsumsi sushi paling banyak. Beberapa orang yang disurvei mengaku mengonsumsi lebih dari 40 buah sushi per bulan. Sementara itu, delapan orang mengatakan bahwa mereka mengonsumsi ikan atau sushi setidaknya sekali sehari.

Sekitar 10% orang yang makan sushi terbanyak melebihi batas konsumsi metilmerkuri versi Center for Disease Control Minimal Risk Level dan WHO Provisional Tolerable Weekly Intake. Orang-orang di kelompok ini menyantap sushi rata-rata 30-60 kali makan per bulan.

Jenis sushi yang mengandung kadar metilmerkuri tertinggi adalah tuna sashimi, khususnya tuna jenis Atlantic bluefin dan bigeye yang sering disajikan di restoran. Di dalamnya terdapat sekitar 0,61 part per million (ppm) metilmerkuri.

"Seseorang dengan berat badan 59 kg yang menyantap 227 gram (sekitar 6-8 potong) tuna yang dijadikan sampel, melebihi standar Environmental Protection Agency (EPA) atau asupan harian metilmerkuri maksimum yang disarankan, sebanyak lebih dari 35 kali lipat," tulis peneliti dari Milwaukee-Wisconsin Journal Sentinel pada 2008.

Tuna yang kadar merkurinya lebih rendah adalah yellowfin dan bluefin toro. Bagaimanapun juga, belut, kepiting, salmon, dan ganggang (kelp) mengandung metilmerkuri dengan kadar paling rendah. Studi tadi juga menemukan bahwa sushi udang dan mackerel mengandung merkuri dalam kadar sangat sedikit.

Kadar merkuri bervariasi antara sampel-sampel sushi yang diteliti. Menurut peneliti, ada yang kadarnya setinggi 2,0 ppm, membuat paparan merkuri dari konsumsi sushi atau sashimi sulit diprediksi.

"Bagi orang yang jarang mengonsumsi ikan atau sushi (kurang dari sebulan sekali), memilih ikan yang akan dikonsumsi berdasarkan kandungan merkurinya mungkin tak penting.

"Namun, orang-orang yang sering makan ikan, lebih dari sekali seminggu, harus memilih dengan bijaksana. Orang yang banyak mengonsumsi sushi sebaiknya mengurangi asupan tuna," tulis peneliti, seperti dikutip dari Huffington Post (26/11/13).

Setiap orang memiliki sejumlah metilmerkuri di jaringan tubuh mereka akibat lazimnya zat tersebut di lingkungan kita serta karena konsumsi seafood. Hal ini bisa berbahaya, tergantung faktor seperti dosis, usia paparan, serta durasi dan rute paparan.

EPA mengatakan bahwa metilmerkuri dapat membahayakan janin, bayi, dan anak-anak karena dapat merusak perkembangan saraf. Makanya, ibu hamil tak disarankan mengonsumsi ikan dan kerang-kerangan yang mengandung metilmerkuri.

Bagaimanapun juga, mengutip laporan Centers for Disease Control and Prevention pada tahun 1999 dan 2000, EPA menyebutkan bahwa kadar merkuri dalam tubuh kebanyakan orang tak cukup tinggi untuk menyebabkan gangguan kesehatan.

Bukan cuma konsumen sushi yang perlu waspada akan kandungan merkuri dalam ikan. Pada 2011, Consumer Reports menulis hasil pemeriksaan kadar merkuri dalam tuna kalengan. Disebutkan bahwa tuna putih atau albacore lebih tinggi merkuri dibanding light tuna.

Namun, sebuah laporan yang dirilis baru-baru ini oleh University of Bristol menunjukkan bahwa ikan hanya menyumbang 7% merkuri asal makanan dalam manusia. Selain ikan, teh dan alkohol bisa menjadi kambing hitam kontaminasi merkuri.

(fit/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads