Seperti dimuat di Nutrition Journal, peneliti dari Dartmouth College menganalisis diet 852 orang di New Hampshire, Amerika Serikat. Kadar arsenik mereka dilihat dari kuku kaki yang menunjukkan terpaan jangka panjang zat kimia tersebut.
Dari 120 makanan yang diperiksa peneliti, empat di antaranya meningkatkan kadar arsenik secara signifikan. Makanan dan minuman tersebut adalah bir, white wine, Brussel sprout, serta ikan dengan warna daging gelap seperti salmon, tuna, dan sardin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa diet bisa jadi sumber penting dari paparan arsenik jangka panjang, tak peduli seberapa tinggi konsentrasi arsenik dalam air minum.
Arsenik terjadi secara alami di lingkungan. Paparan arsenik dalam jangka panjang, meski kadarnya rendah, berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker kandung kemih, paru-paru, dan kulit serta diabetes tipe 2 dan masalah kardiovaskular.
Environmental Protection Agency (EPA) membatasi kadar arsenik dalam air minum sebanyak 10 mikrogram per liter. Namun, hanya sedikit makanan yang dibatasi kandungan arseniknya.
Pada studi tersebut, kadar arsenik dalam air keran di rumah partisipan berada di bawah batas EPA, yakni rata-rata 0,30 mikrogram per liter. Bagaimanapun juga, 52 partisipan memiliki air keran berkadar arsenik lebih tinggi daripada batas EPA.
Kadar arsenik di kuku kaki peserta studi rata-rata 0,12 mikrogram per gram. Namun, tak jelas apakah kadar konsentrasi di sampel kuku kaki menunjukkan kadar terpaan arsenik yang tak aman. Pengukuran kuku kaki di studi ini hanya sebagai cara membandingkan kadar arsenik di antara para peserta.
Orang-orang yang minum rata-rata 2,5 gelas bir atau segelas white wine setiap hari memiliki kadar arsenik 20-30% lebih tinggi daripada orang-orang yang tak minum.
"Studi ini tak dirancang untuk menemukan mengapa tingginya konsumsi bir dan wine terkait dengan meningkatnya kadar arsenik. Tapi mungkin saja," ujar Kathryn Cottingham, salah satu peneliti, seperti dikutip dari Huffington Post (27/11/13).
Salah satu kemungkinannya adalah bahan dalam bir dan wine tinggi arsenik. Mungkin juga zat tersebut sengaja ditambahkan pada proses penyaringan untuk memberikan tampilan gemerlap dan bening pada bir dan wine.
Selain itu, alkohol itu sendiri bisa menjadi biang tingginya kadar arsenik karena mengganggu kemampuan tubuh untuk mendetoksifikasi zat ini. "Mekanisme yang digunakan untuk membuang zat-zat yang tak baik bagi tubuh kita bisa terganggu oleh konsumsi alkohol," ujar Cottingham.
Peneliti tak menemukan kaitan antara kadar arsenik dan asupan beras yang sebelumnya diduga tinggi arsenik. Namun, semakin gelap warna daging ikan yang dikonsumsi seseorang, semakin tinggi kadar arseniknya.
Orang-orang yang memakan ikan berdaging gelap seminggu sekali memiliki konsentrasi arsenik 7% lebih tinggi di kuku kaki mereka dibanding orang-orang yang mengonsumsi ikan ini kurang dari sekali sebulan.
Namun, Anda tak perlu menghindari makanan-makanan tinggi arsenik tersebut sama sekali. "Cara terbaik untuk menjauhi terpaan arsenik dari makanan adalah memakan beragam makanan, bukan menyantap makanan yang sama setiap hari," saran Cottingham.
Selain itu, penting pula menjaga sumber air tetap aman. "Sumber air pribadi perlu diuji. Pasalnya, kita minum dan menggunakan air setiap hari," tutup Cottingham.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN