Potongan daging yang dibuat menjadi mumi sering ditemukan di pemakaman Mesir kuno. Raja Tutankhamun yang terkenalpun dikuburkan bersama 48 peti daging sapi dan unggas. Namun, kebanyakan mumi daging belum pernah diteliti hingga sekarang.
Ahli biogeokimia Richard Evershed dan timnya dari University of Bristol memelajari bagaimana daging tersebut dibuat menjadi mumi. Mereka juga mencari tahu apakah metode pembuatan mumi daging berbeda dengan pembuatan mumi orang atau hewan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sampel kedua berupa daging sapi yang berasal dari tahun 1064-948 SM. Mumi daging ini ditemukan di makam Isetemkheb D, saudara perempuan sekaligus istri seorang pendeta tinggi di Thebes, Mesir.
Terakhir, ditemukan mumi yang tampaknya daging bebek dan daging kambing di makam Henutmehyt, pendeta dari Thebes. Seperti ditulis di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, wanita ini diduga meninggal pada tahun 1290 SM.
Peneliti melakukan analisis kimia terhadap perban maupun daging dari keempat sampel tersebut. Mereka menemukan bahwa lemak hewan melapisi kain pembalut mumi sapi dan kambing.
Namun pada sapi, lemak di perbannya tak menyentuh daging. Tampaknya lemak tersebut dibalurkan di perban sebagai pengawet, bukan menembus keluar kain pembalut sebagai lemak.
Profil kimia paling menarik tampak pada mumi daging sapi. Perbannya mengandung sisa balsem yang terbuat dari lemak atau minyak dan getah pohon Pistacia, tanaman semak yang tumbuh di gurun pasir.
Getah ini merupakan benda mewah di era Mesir kuno. Biasanya digunakan sebagai dupa dan pernis peti mati yang berkualitas tinggi. Namun, getahnya tak digunakan untuk mengawetkan mayat hingga setidaknya 600 tahun setelah kematian Tjuiu dan Yuya.
(dni/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN