Penelitian ini dilakukan oleh University of Arizona dan dikepalai oleh Melanie Hingle, profesor ilmu nutrisi. Penelitian ini menggunakan media sosial populer dalam rangka untuk mengumpulkan informasi tentang pola diet dan motivasi para partisipan.
βLangkah ini membantu para ahli nutrisi mengerti apa yang mendorong sebuah pola makan. Hal tersebut sangat penting untuk membangun pola makan sehat. Jika, saya akan mengembangkan program pola makan sehat untuk masyarakat, saya ingin mengetahui apa yang memotivasi mereka menerapkan pola makan tertentu,β tutur Melanie dalam University Of Arizona News (26/08/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tiap tweet juga harus berisi informasi deskriptif atau foto yang memberi informasi dimana, kapan, mengapa, dan dengan siapa mereka makan. βKategori ini menunjukkan rumitnya masalah obesitas dan banyak faktor penyebabnya. Mulai dari lingkungan fisik hingga dengan siapa Anda bergaul. Jika orang sadar akan faktor tersebut, mereka bisa melakukan perubahan,β tambah Melanie.
Total terdapat 773 tweet termasuk 2862 hashtag (1756 tentang makanan dan 1106 alasan pemilihan makanan). Beberapa hashtag yang paling banyak dipakai adalah#grains (n=365 tweets), #dairy (n=221), and #protein (n=307). Alasan yang paling sering ditweet adalah #social (activity) (n=122), #taste (n=146), dan #convenience (n=173).
Setelah menyelesaikan studi, Melanie, professor Randy Burd, Stephen Kobourov selaku profesor ilmu komputer, dan kolega di New Mexico State University mengembangkan aplikasi Iphone bernama "Eat It, Tweet It" yang memudahkan masyarakat melihat perilaku makanan mereka lewat Twitter.
(dni/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN