Konsumsi Wine Berlebihan, Inggris Usulkan Perubahan Definisi Wine

Konsumsi Wine Berlebihan, Inggris Usulkan Perubahan Definisi Wine

Deani Sekar Hapsari - detikFood
Sabtu, 17 Agu 2013 08:38 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Konsumi wine berlebihan di kalangan masyarakat Inggris menimbulkan kecemasan. Karenanya kementrian kesehatan Inggris mengajukan perubahan definisi wine menjadi minuman dengan sedikit atau tanpa alkohol ke Uni Eropa.

Untuk mengendalikan konsumsi alkohol masyarakat Inggris, pemerintah Inggris mendorong supermarket untuk memperbanyak produk rendah alkohol. Saat ini, Earl Howe, Menteri Kesehatan mengajukan perubahan definisi wine ke Uni Eropa.

Kementrian ingin alcohol-by-volume (ABV) wine diturunkan mulai dari 8,5 persen menjadi 4,5 persen. Menteri Kesehatan mengusulkan promosi wine rendah alkohol ini bisa menjadi alternatif jangka panjang terbaik. Karena meningkatnya penyakit hati dan kanker berhubungan dengan konsumsi wine.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

β€œPemerintah secara konsisten mengajukan perubahan peraturan wine Uni Eropa untuk mengijinkan penurunan dan penghapusan alkohol produk minuman sehingga bisa disebut wine,” tutur Earl How selaku Menteri Kesehatan kepada Telegraph (16/08/2013). Rencana pemerintah ini didukung oleh Wine and Spirit Trade Association.

Selain bermanfaat bagi kesehatan, Earl juga menyatakan perubahan aturan ini menyediakan fleksibilitas untuk para pembuat wine dan memperbanyak pilihan minuman konsumen. Tapi, para kritikus menyatakan langkah ini malah akan menyiksa para konsumen. Karena setelah inflasi harga wine melonjak.

β€œMereka cenderung berpikir wine tidak sekedar minuman beralkohol. Minuman ini mempunyai sejarah dan harusnya mempunyai rasa enak. Saat pandangan ini mulai dihilangkan dan malah berfokus pada alkohol daripada rasa, pemerintah sebenarnya mendukung minum alkohol tanpa arti,” tutur Victoria Moore, kritikus wine.

Laporan terakhir menyebutkan negosiasi perubahan definisi wine dari Uni Eropa dengan Common Agricultural Policy ditolak. Keputuisan ini dikeluarkan setelah berargumentasi dengan beberapa negara penghasil wine seperti Prancis, Italia, dan Portugal.

(dni/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads