Ditengah maraknya kasus keracunan makanan, tim peneliti University of Rochester, Amerika meluncurkan sistem bernama nEmesis. Lewat sistem, ini laporan kasus keracunan makanan di twitter akan dikumpulkan dan jadi indikator penilaian standar kebersihan restoran.
Sistem nEmesis mengkombinasikan mesin pencarian dan teknik pengumpulan data jumlah banyak untuk menganalisa jutaan tweet. Setelah itu, sistem akan langsung mengumpulkan tweet yang menyinggung gejala keracunan makanan setelah mengunjungi sebuah restoran.
Setelah percobaan selama empat bulan di kota New york, sistem mengumpulkan 3,8 juta tweet dari lebih 94.000 pengguna. Juga melacak 23.000 pengunjung restoran, dan menemukan 480 laporan kasus keracunan makanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah data terkumpul, nEmesis melihat jutaan tweet dan membandingkannya dengan lokasi Google Map restoran yang telah dikunjungi. Sistem akan sekaligus menerima kumpulan data berbeda dari pengguna lainnya setelah mereka makan.
Berdasarkan data tersebut, sistem akan memberikan tingkat kesehatan pada restoran dan hasil tersebut ternyata hampir sama dengan nilai yang diberikan Departemen Kesehatan. Pada tahap tersebut alogaritma nEmesis menyeleksi kata kunci seperti βsakitβ, tim akan menyeleksi kalimat lainnya untuk hasil yang lebih terinci.
βDengan menaruh sinyal dalam konteks, banyak kumpulan cemooh bisa jadi peringatan yang ditindaklanjuti, respon Twitter bukanlah indikator utama, setiap kasus yang dilaporkan tidak hanya berasal dari hidangan restoran, tapi secara keseluruhan angka menunjukkan hasil yang akurat,β tutur Sadilek dalam Rochester.edu (12/08/2013).
Di Amerika Serikat sendiri kasus keracunan makanan sudah dalam tahap mengkhawatirkan. Menurut Disease Control and Prevention diperkirakan 47,8 juta orang terserang keracunan makanan setiap tahunnya dan 3.000 diantaranya meninggal.
(dni/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN