Soal Anjuran Konsumsi Garam, Lembaga Penting Amerika Masih Berdebat

Soal Anjuran Konsumsi Garam, Lembaga Penting Amerika Masih Berdebat

Dyah Oktabriawatie Waluyani - detikFood
Kamis, 16 Mei 2013 09:37 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Amerika sudah lama melakukan kampanye aturan konsumsi garam. Langkah ini berguna untuk mengurangi angka hipertensi. Nyatanya anjuran ini tidak dipahami oleh banyak orang Amerika.

Sebuah studi baru yang diterbitkan oleh Institute of Medicine (IOM). Asupan garam di Amerika, dikatakan terlalu konservatif. Bahkan bisa menyebabkan beberapa orang mengalami masalah kesehatan jika mereka terlalu sedikit mengonsumsi garam.

Centers for Disease Control and Prevention yang mengawasi bidang kesehatan di Amerika, dilaporkan menugaskan IOM untuk melakukan penelitian. Sebenarnya, American Heart Association telah menetapkan anjuran konsumsi garam yaitu 1.500 mg gram per hari, atau sekitar setengah sendok teh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun berbeda dengan pandangan IOM, anjuran konsumsi garam yang ditetapkan mereka adalah 2.300 mg garam perhari. Pedoman inipun ditanggapi oleh American Heart Association. β€œSemua orang Amerika seharusnya tidak makan lebih dari 1.500 mg natrium dalam sehari.” tutur Nancy Brown, CEO American Heart Asoociation.

Meskipun dua lembaga penting ini saling berdebat untuk menentukan anjuran konsumsi garam, namun pada kenyataannya konsumsi garam lebih dari yang mereka anjurkan. Seperti dilaporkan New York Times, asupan garam harian di seluruh dunia rata-rata dua kali lebih banyak dari yang dianjurkan American Heart Association, sekitar 3.400 mg per hari.

Menurut studi yang dilakukan tahun 2008 di Italia, 232 orang dengan gagal jantung kongestif diminta untuk mengonsumsi 2.700 atau 1.840 mg garam per hari. Pada studi kedua, lebih dari 28.000 pasien dengan tekanan darah tinggi justru meninggal dunia karena konsumsi garam kurang dari 3.000 mg perhari.

Konsumsi garam pada penderita gagal jantung kongestif ini pastilah lebih banyak dari yang dianjurkan American Heart Associated juga Institute of Medicine.

(dyh/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads