China Ingin Lebih Serius Tangani Keamanan Pangan

China Ingin Lebih Serius Tangani Keamanan Pangan

- detikFood
Senin, 06 Mei 2013 11:44 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Tingkat kriminal keamanan makanan di China semakin meningkat. Seperti penjualan daging tikus dan rubah berlabel kambing baru-baru ini. Untuk mengurangi tingkat kriminal pangan, pemerintah China ingin lebih serius menanganinya.

Kementerian Keamanan Masyarakat China, telah menindak keras mengenai pelanggaran keamanan pangan yang sudah terjadi. Merekapun telah menyelidiki lebih dari 380 kasus keamanan pangan dan sekitar 904 orang ditetapkan sebagai tersangka

Seperti diberitakan Huffington Post (5/5/2013), diantara para tersangka yang ditahan, ada sekitar 63 orang yang diduga membeli daging rubah dan tikus. Kemudian daging yang belum diuji kualitasnya ini diolah dengan zat aditif dan dijual dengan label daging kambing. Umumnya daging palsu ini dijual ke provinsi Jiangsu dan Shanghai, China.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada tahun lalu skandal keamanan pangan juga terjadi. Mulai dari susu yang terkontaminasi bahan kimia industri, hingga penggunaan zat pewarna industri pada telur. Hari Jumat (3/5/2013) lalu, pengadilan tinggi China mengeluarkan pedoman baru agar produsen yang melanggar keamanan pangan dihukum lebih berat lagi.

Mahkamah Agung di China mengatakan bahwa yang termasuk tindakan kejahatan keamanan pangan, adalah makanan yang bercampur bahan kimia hingga menyebabkan konsumen meninggal dunia, penipuan pada label daging. Juga kontaminasi pada makanan bayi yang menyebabkan kekurangan gizi pada anak.

Berdasarkan laporan Mahkamah Agung, tahun 2010-2012 sebanyak 2.088 orang dituntut dalam kasus keamanan pangan. Jumlahnya berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Seperti tahun 2012 ada sekitar 861 kasus keracunan makanan, angka kasus ini lebih besar dibanding tahun 2010 yang hanya 80 kasus.

β€œKasus seperti ini sangatlah serius dan menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat. Merekapun perlu dihukum berat.” ujar Pei Xianding, Hakim Makhamah Agung di China, seperti dikutip Huffington Post.

(dyh/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads