Logo menarik dan warna-warna cerah sengaja ditampilkan pada kemasan keripik kentang agar konsumen tertarik membeli. Namun, menurut penulis buku 'Salt, Sugar, Fat: How The Food Giants Hooked Us' Michael Moss, strategi produsen tidak hanya sebatas itu.
Pada tahun 1970-an, keripik kentang adalah snack yang sekadar enak. Namun, agar produk yang dihasilkan dapat langsung ke pusat candu di otak, para produsen makanan telah melakukan penelitian selama berpuluh-puluh tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lemak dirasakan melalui syaraf bernama trigeminal yang terletak di belakang atas mulut. Trigeminal mengirimkan informasi ke otak. Semakin baik mouthfeelnya, semakin kita menginginkan makanan tersebut.
Selain garam dan lemak, keripik kentang juga mengandung gula yang terdapat secara alami dalam patinya. Inilah tiga rasa yang secara alami diidamkan oleh otak. Bagaimanapun juga, senjata pamungkas produsen keripik kentang adalah tekstur renyah pada keripik.
"Penelitian menunjukkan bahwa semakin berisik suara keripik ketika digigit, semakin kita menyukainya," kata Moss, seperti dikutip dari Daily Mail (08/04/13). Hal ini mendorong produsen mencari formula kerenyahan yang sempurna. Akhirnya, ditemukanlah rumusan perfect break point, yakni tekanan empat psi (pounds per square inch).
Trik lainnya adalah dengan memberi label 'gourmet' pada keripik kentang sehingga terkesan bahan-bahannya tak berbahaya jika dikonsumsi berlebihan. Padahal, mengonsumsi sebungkus keripik kentang setiap hari setara dengan meminum hampir lima liter minyak goreng per tahun! Belum lagi kandungan lemak, gula, dan garamnya.
Jika dikonsumsi berlebihan, bahan-bahan ini dapat meningkatkan risiko obesitas, tekanan darah tinggi, diabetes tipe dua, serta penyakit jantung koroner. Pada anak-anak, konsumsi berlebihan dapat membuat kesehatan mereka menurun di masa depan.
Dalam New England Journal of Medicine, terbukti bahwa keripik kentang merupakan kontributor terbesar dan satu-satunya terkait epidemi obesitas di Amerika Serikat. Pasalnya, selain menggemukkan, camilan ini juga mudah didapatkan dan membuat kita ketagihan.
Tingginya kandungan tepung dan karbohidrat yang dimurnikan dalam sebungkus keripik kentang dapat meningkatkan kadar glukosa dan insulin dalam darah. Ketidakseimbangan ini mengakibatkan peningkatan rasa lapar sehingga kita akan tergoda untuk memakan lebih banyak keripik kentang.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN