Selain Gula, Alkohol Juga Bisa Jadi Sumber Energi Otak

Selain Gula, Alkohol Juga Bisa Jadi Sumber Energi Otak

Fitria Rahmadianti - detikFood
Kamis, 14 Mar 2013 17:01 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Otak manusia biasanya menggunakan gula sebagai sumber energi. Namun, peneliti menunjukkan bahwa zat hasil metabolisme alkohol ternyata juga dapat dijadikan bahan bakar alternatif untuk otak.

Asetat dikenal sebagai zat kimiawi yang terkandung dalam cuka. Namun, asetat bisa juga dihasilkan setelah seseorang menenggak minuman beralkohol. Usai memecah alkohol, hati menyisakan asetat untuk dipompa keluar. Kemudian, aliran darah mengantarkan asetat ke seluruh tubuh, termasuk ke otak.

Peneliti dari Yale University menduga, kecukupan kadar asetat dalam darah akan membuat otak mampu membakar asetat. Mereka juga berhipotesis bahwa peminum kelas berat (minimal delapan minuman per minggu) menyerap dan membakar asetat lebih banyak daripada peminum kelas ringan (kurang dari dua minuman per minggu).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk membuktikannya, para ilmuwan melibatkan masing-masing tujuh peminum alkohol kelas berat serta peminum alkohol kelas ringan. Ketika sedang bebas dari pengaruh alkohol, para sukarelawan disuntik asetat yang sudah ditempeli atom yang dapat dilacak. Kemudian mereka menjalani pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI) selama dua jam.

Dari sini bisa terlihat berapa banyak asetat yang ada dan berapa banyak yang digunakan di otak partisipan. Ternyata, peminum kelas berat mengirimkan lebih banyak asetat ke otak mereka. Selain itu, otak mereka juga membakar zat kimia tersebut dua kali lebih cepat dibanding peminum kelas ringan.

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan berpikir bahwa otak hanya dapat menggunakan gula sebagai sumber energi. Ternyata, otak juga bisa memakai asetat, seperti mobil yang dapat beralih ke ethanol jika bensinnya habis.

Sayang, energi ekstra yang dihasilkan akan mendorong peminum kelas berat untuk minum lebih banyak lagi. Inilah penjelasan mengapa melepaskan diri dari alkohol terasa begitu berat. Selanjutnya, peneliti ingin mengetahui apakah meminum asetat akan meredakan gejala yang sering dialami pecandu alkohol yang berhenti minum.

"Meski demikian, saya tidak ingin orang-orang mulai minum cuka," kata Graeme mason, salah satu peneliti, seperti dilansir Science News (08/03/13). Pasalnya, karena hati bekerja sangat baik dalam mengubah alkohol menjadi asetat, diperlukan banyak cuka untuk mendapat asetat sebanyak yang diperoleh dari minum alkohol.

Tahun lalu, peneliti dari University of Illinois membuktikan bahwa alkohol dapat mendorong kreativitas. Dalam jurnal Consciousness & Cognition, disebutkan bahwa kelompok peserta yang minum membutuhkan waktu lebih singkat untuk menyelesaikan tes verbal dibanding kelompok yang tak minum.

Bagaimanapun juga, mengonsumsi minuman beralkohol, apalagi dalam kadar berlebih, berbahaya bagi kesehatan. Beberapa dampaknya adalah membuat lingkar pinggang bertambah dan meningkatkan risiko kanker.

(fit/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads