Peneliti dari Pennsylvania State University menemukan bahwa kecintaan terhadap cabai terkait dengan pencarian sensasi dan reward. Jadi, seseorang menyukai pedas bukan karena lidahnya semakin tak peka terhadap rasa membakar yang dihasilkan cabai.
Tadinya, para peneliti mengharapkan riset ini sekadar menunjukkan berkurangnya respon terhadap rasa membakar dari capsaicin. Namun, "Temuan ini malah mendukung hipotesis bahwa perbedaan kepribadian mempengaruhi kesukaan dan asupan terhadap makanan pedas," tulis peneliti dalam jurnal Food Quality and Preference.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peneliti menguji hampir 100 orang sukarelawan. Partisipan diminta memasukkan sampel cair capsaicin ke dalam mulut selama tiga detik sebelum membuangnya. Selanjutnya, mereka diminta memberi peringkat terhadap sensasi membakar yang dihasilkan capsaicin tadi.
Di kuesioner yang berbeda, mereka juga diajak menilai kesukaan mereka terhadap beragam makanan. "Kami menyebutnya kuesioner sensitivitas terhadap hukuman (perilaku menghindar) dan sensitivitas terhadap reward (hal yang dicari)," ucap Hayes, seperti dilansir situs CBC News (03/12/12).
Riset terdahulu sudah menyebutkan bahwa kegemaran terhadap makanan pedas bukan hanya soal lidah yang semakin tidak peka. Namun, studi terbaru ini semakin menguatkan bahwa terdapat hubungan antara kegandrungan terhadap cabai dengan sensitivitas terhadap reward.
"Terjadi semacam perubahan afektif yakni Anda belajar menyukai rasa membakar tersebut," jelas Hayes. Tak heran, banyak orang yang berani menantang diri untuk menyantap makanan dengan tingkat kepedasan paling tinggi. Rupanya, hal ini memuaskan keinginan mereka terhadap sensasi pedas dan memberi kesenangan bagi mereka.
Temuan ini diharapkan dapat membuat kita memahami preferensi makanan yang berbeda pada tiap individu. Bahkan, implikasinya juga bisa memudahkan ahli diet dalam menyusun rencana pola makan sehat bagi individu, sesuai dengan profil genetika iritasi oral dan preferensi makanannya.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN