Di Penang Muncul Klaim Ikan Non-Halal, Kok Bisa?

Andi Annisa Dwi Rahmawati - detikFood Jumat, 22 Feb 2019 14:58 WIB
Foto: iStock Foto: iStock
Jakarta - Selama ini kehalalan ikan sudah jelas dan jarang dipertanyakan, namun kelompok konsumen di Penang menyebut ada ikan yang mungkin tidak halal. Mengapa?

Muslim di Penang, Malaysia sedang resah terkait isu ikan non-halal di sana. Adalah Penang Consumers Association (CAP) yang menyampaikan bahwa beberapa petambak ikan air tawar memberi pakan non-halal untuk ikan peliharaannya.

Presiden CAP, SM Mohamed Idris mengklaim tahun 2009 ditemukan beberapa petambak ikan yang menggunakan air limbah dari peternakan babi. Air tersebut kemudian terkandung dalam pakan ikan yang mereka pakai.

"Tahun 2013, seorang petambak dihukum karena memberi makan patin yang dibudidayakannya dengan usus babi," kata Mohamed Idris seperti dikutip dari Malay Mail (22/2).

Di Penang Muncul Klaim Ikan Non-Halal, Kok Bisa?Foto: iStock

Ada juga kasus lain dimana ditemukan tengkorak dan tulang binatang di dasar kolam ikan. Saat diperiksa, sampel tulang itu ternyata positif mengandung DNA babi. Begitu juga dengan temuan di Perak dimana bangkai babi utuh dipakai untuk menutrisi ikan nila.

Mohamed Idris turut menyampaikan temuan tahun 2010 oleh Federal Agricultural and Marketing Authority (FAMA) dan Universiti Sains Malaysia. Mereka mengungkap 40 persen perusahaan pakan ikan di Malaysia menggunakan campuran hewani dalam bahan pakannya.

"Hal ini memunculkan keraguan soal aspek halal pada binatang yang diberikan pakan seperti itu," lanjut Mohamed Idris. Ia menambahkan Dewan Fatwa Nasional Malaysia telah memutuskan hewan yang diberi makan non-halal tergolong haram.

Meski begitu, ia mengatakan Departemen Pengembangan Islam Malaysia (Jakim) melalui Manual Prosedur Sertifikasi Halal menyatakan pakan ternak dikategorikan sebagai produk yang tidak dapat diverifikasi.

Di Penang Muncul Klaim Ikan Non-Halal, Kok Bisa?Foto: iStock

Mohamed Idris juga meminta pengubahan Undang-undang Pakan Hewan 2009 agar memasukkan unsur-unsur halal. Mulai dari proses persiapan, pengolahan, produksi, hingga penanganan pakan ternak.

Selain itu ia meminta Jakim agar memasukkan pakan ternak sebagai produk yang harus tersertifikasi halal, sesuai standar Jakim. Begitu juga dengan pemerintah yang harus membuat standar halal untuk untuk persiapan pakan, produksi, distribusi, pelabelan dan penanganan sehingga memungkinkan produsen pakan mendapat sertifikat halal untuk produk paka mereka.

Sementara itu menurut Mohamed Idris, Muslim harus bersabar. "Umat Islam harus menahan diri makan ikan hingga hukum seperti itu ditegakkan," pungkasnya.

(adr/odi)