Negara Non Muslim Semakin Meningkatkan Ekspor Makanan Halal

Negara Non Muslim Semakin Meningkatkan Ekspor Makanan Halal

Maya Safira - detikFood
Rabu, 12 Okt 2016 13:20 WIB
Foto: Detikfood/Gulf News
Jakarta - Eskportir makanan dari negara mayoritas non muslim mengambil peluang dari pertumbuhan pasar makanan halal global. Ini disampaikan seorang ahli di industri.

Rafi-uddin Shikoh, chief executive dan managing director di perusahaan riset DinarStandard, mengatakan mayoritas ekspor daging ke negara mayoritas Muslim berasal dari negara non OIC (Organisation of Islamic Cooperation), lapor Gulf News (11/10).

"Saat ini, ruang makanan halal merupakan rantai nilai global. Supplier terbesar berasal dari negara-negara non OIC. Brazil merupakan eksportir unggas terbesar, India adalah eskportir daging sapi terbesar," ujar Shikoh di sela-sela Global Islamic Economic Summit di Dubai pada Selasa (11/10).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Negara Non Muslim Semakin Meningkatkan Ekspor Makanan Halal

Ia menambahkan bahwa dalam 57 negara mayoritas muslim, sebesar 90% dagingnya datang dari negara luar muslim.

Meski Brazil, India dan Selandia Baru termasuk eskportir daging terbesar ke negara OIC, namun beberapa negara muslim sedang berupaya meningkatkan ekspor daging halal. Seperti Pakistan, Turki, dan Iran. Pasar negara non OIC diantaranya Thailand, Korea Selatan dan China yang juga sedang meningkatkan produksi makanan halalnya.

Secara global, konsumen muslim menghabiskan $1,17 triliun (Rp 1,5 quintillion) pada makanan dan minuman di tahun 2015. Pada tahun 2021, angka ini diperkirakan mencapai $1,9 triliun (Rp 2,4 quintillion), menurut Global Islamic Economy Report terbaru yang dibuat Thomson Reuters dan DinarStandard.

Negara Non Muslim Semakin Meningkatkan Ekspor Makanan Halal


Adapun negara-negara muslim dengan tingkat pembelanjaan tertinggi pada makanan dan minuman tahun 2015 adalah Turki ($166 miliar/Rp 2,1 quadrillion), Indonesia ($155 miliar/Rp 2 quadrillion), Pakistan ($106 miliar/Rp 1,3 quadrillion), Mesir ($78miliar/Rp 1 quadrillion), Bangladesh ($69 miliar/Rp 897 triliun), Iran ($59 miliar/Rp 767 triliun) dan Arab Saudi ($48 miliar/Rp 624 triliun).

Pasar bahan makanan halal global senilai $245 miliar atau Rp 3,1 quadrillion, berdasarkan data Thomson Reuters. Impor bahan halal negara OIC mencapai $33 miliar atau Rp 429 triliun tahun 2015.

Sementara pendapatan untuk produk makanan dan minuman bersertifikasi halal secara global diperkirakan sekitar $415 miliar atau Rp 5 quadrillion tahun lalu.

(adr/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads