Bahan Non-Halal Masih Banyak Tak Sengaja Dikonsumsi oleh Muslim di Dunia

Bahan Non-Halal Masih Banyak Tak Sengaja Dikonsumsi oleh Muslim di Dunia

Maya Safira - detikFood
Senin, 20 Jun 2016 15:18 WIB
Foto: iStock
Jakarta - Konsumen muslim bisa saja tanpa sengaja mengonsumsi bahan haram yang tersembunyi pada produk makanan. Hal ini akibat rantai pasokan yang kompleks.

Laporan "Addresing the Halal Ingredients Opportunity: Industry Developments" dari Thomson Reuters dan DinarStandard mengklaim konsumsi produk yang dilarang syariah Islam tersebar luas di dunia muslim.

Laporan yang dipublikasikan bulan Juni itu menemukan bahwa produk haram paling umum dikonsumsi adalah gelatin, lemak babi, pepsin dan pewarna makanan. Food Navigator-Asia (15/06) menyebutkan juga bahan turunan alkohol.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



"Babi, alkohol dan hewan yang haram, termasuk serangga, dan produk turunannya, telah dilarang konsumsinya dalam Islam. Meskipun demikian, penggunaan bahan-bahan haram dan konsumsi tak sengaja oleh muslim tersebar luas, dengan kurangnya kesadaran di kalangan konsumen muslim dan importir," sebut penulis laporan, seperti dikutip dari Food Navigator-Asia.

Dalam laporan terdapat kutipan Abid Masood dari Halal Food Council Eropa. "Gelatin untuk konsumsi makanan termasuk salah satu kategori bahan yang paling bermasalah. Ini digunakan sangat luas dan sumbernya kemungkinan besar tidak halal, dan mungkin dari babi," ujarnya.

Dari produksi gelatin senilai $2,7 milyar pada tahun 2015, sekitar 45% berasal dari babi dan 50% dari sapi. Laporan menyebut hanya gelatin bersumber dari ikan atau sapi yang disembelih secara halal secara Islam.

Gelatin haram juga dipakai dalam produk tak terduga yang jarang diketahui konsumen. Laporan mengutip Fe Jazzareen Mor Jappar Khan dari Persis Management yang mengatakan gelatin sering digunakan sebagai penyaring untuk jus apel.



"Ada banyak proses tak terlihat dalam industri bahan makanan yang konsumen tidak tahu. Penggunaan fermentasi, yang menghasilkan alkohol, dan produk turunan hewan sangat tersebar luas, dimana banyak produk tidak cocok atau menimbulkan pertanyaan bagi konsumen muslim," ungkap Stephan Heck dari DSM Nutritional Products dalam laporan.

Ia menambahkan bahwa kesadaran konsumen muslim sangat rendah saat ini terkait apa yang mereka boleh konsumsi atau tidak.

"Semakin banyak orang yang lebih teredukasi, dan mereka mulai memeriksa label secara detil. Meski begitu, banyak diantaranya tidak tahu. Dan ini tergantung perusahaan untuk mengomunikasikan tantangan dan status halal mereka kepada konsumen," lanjut Stephan.

Bersamaan dengan rantai pasokan yang kompleks, laporan juga menyebutkan terbatasnya standar halal terpadu jadi faktor dalam masalah bahan haram makanan. Tapi laporan menyatakan bahwa pasar punya banyak kesempatan terkait bahan makanan ini. Mulai dari platform e-commerce yang mulai tumbuh dengan database bahan halal, hingga peluang bisnis lebih luas bagi perusahan-perusahaan yang melakukan produksi halal. (msa/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads