China Makin Aktif Kembangkan Industri Makanan Halal

Tania Natalin Simanjuntak - detikFood Selasa, 25 Agu 2015 19:05 WIB
Ilustrasi: Getty Images
Jakarta - Laporan Euromonitor terbaru meramalkan konsumen muslim akan memenuhi lebih dari seperempat populasi dunia pada tahun 2030. Karena itu, China pun mulai aktif dalam mengembangkan industri makanan halal.

Perusahaan China semakin berusaha masuk ke pasar halal yang sedang berkembang. Pemerintahnya pun mulai mengincar perjanjian internasional terkait halal dengan mitra regional dalam upaya perluasan ekspor negara.

Menurut laporan CNBC (24/08), China bukan merupakan kandidat kuat bagi makanan halal. Populasi muslim hanya ada 2 persen dari total penduduk China. Sebagian besar tinggal di Xinjiang dan Ningxia, wilayah paling terbelakang dari negara itu.

Meski begitu, China tetap terus maju dalam pengembangan halal. Di bawah inisiatif "One Belt One Road", China bertujuan menciptakan kembali negeri Jalur Sutera dan rute perdagangan maritim. Dengan itu, China mengejar peluang perdagangan halal dengan negara muslim dan Arab melalui perjanjian perdagangan bilateral.

Di kota Linxia, provinsi Gansu China, beberapa perusahaan sudah membuat perjanjian perdagangan dengan Turki dan Kazakhstan. Perjanjian ini terkait ekspor produk makanan.

China juga sudah membuat seminar dan konferensi untuk perluasan jaringan. Seperti Sino-Malaysian Halal Food and Muslim Supplies Certification and Industry Cooperation Seminar yang berlangsung Juli lalu.

Negara tirai bambu sudah menciptakan pula infrastruktur pendukung perdagangan halal. Termasuk pembangunan pusat manufaktur makanan halal dan suplai muslim. Seperti kawasan industri Wuzhong Halal di Ningxia yang sudah menarik 218 perusahaan.

Tidak cuma permintaan luar yang mendorong minat China pada halal. Joy Huang, manajer penelitian China di Euromonitor International, mengatakan bahwa permintaan juga datang dari penduduk China non-muslim.

"Makanan halal dianggap sehat dan higienis, sehingga memberi standar tinggi bagi produsen. Non-muslim berpikir makanan halal lebih aman, mengingat ada banyak skandal keamanan pangan di China," ujar Joy, seperti dilansir dari CNBC (24/08).

Pemain industri makanan China mulai memenuhi selera penduduk lokal akan produk halal. Shineway Group, salah satu perusahaan daging olahan terbesar di China, sudah bergerak lebih dulu. Mereka melakukan investasi $310 juta (Rp 4,3 triliun) untuk basis produksi daging halal pada tahun 2009.

Tetapi penyedia makanan halal di China masih mengalami ketakutan akan keamanan pangan. Negara ini baru memiliki pusat sertifikasi makanan halal pertama terbesar pada tahun 2014 bernama Ningxia Halal Foods International Trading Certification Center. Pusat tersebut diizinkan mensertifikasi makanan halal di beberapa provinsi.

Saat aturan sertifikasi semakin meningkat, kebanyakan halal center justru hanya beroperasi pada level regional. Terdapat juga kekurangan standarisasi nasional dan dukungan legislatif.

Menurut Euromonitor, ini terjadi karena muslim jadi minoritas di China. Pemerintah jadi lebih fokus pada keamanan pangan umum dibanding aturan agama yg relatif memiliki konsumen dalam kelompok kecil.

Akan tetapi Joy tetap positif terhadap prospek pertumbuhan manufaktur makanan halal.

"Sertifikasi palsu sangat biasa di China tapi saya pikir manufaktur makanan halal tidak akan mengambil risiko memalsukan makanan halal untuk menarik lebih banyak konsumen," ucap Joy.

Fazil Hami dari HCS Consultants Singapura yang bergerak di bidang halal, juga yakin akan kemampuan China dalam memenuhi pertumbuhan permintaan produk halal global.

"Pasar halal sedang tumbuh, dan cepat atau lambat, tidak ada yang menolak kebutuhan akan produk makanan halal buatan China," tutur Fazil.



(tan/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com