Politikus Prancis Usulkan Menu Vegetarian untuk Pelajar Muslim di Sekolah

Maya Safira - detikFood Kamis, 20 Agu 2015 17:20 WIB
Ilustrasi: Getty Images
Jakarta - Larangan penyajian makanan non-babi di sekolah Prancis masih menjadi isu hangat. Menyusul keputusan pengadilan akan larangan sajian tersebut di sekolah, seorang politikus Prancis merancang aturan dimana semua sekolah harus menawarkan pilihan makanan vegetarian.

Mengingat populasi besar Muslim dan Yahudi di Prancis yang punya pantangan makanan, masyarakat dan politikus pun menyarankan bahwa solusi paling adil adalah menawarkan makanan vegetarian di sekolah-sekolah.

Laporan International Business Times (17/08) menyebut seorang anggota Assemblee Nationale, mengumumkan rencana mendorong munculnya undang-undang yang mewajibkan semua sekolah negeri di Prancis menawarkan pilihan menu vegetarian. Yves Jego, politisi dari Union of Democrats and Independents, meluncurkan petisi untuk menggalang dukungan atas rencana itu.

"Ada banyak kemungkinan jenis kuliner yang bisa dipilih untuk memastikan terpenuhinya dosis protein tiap kali makan dalam menu vegetarian yang sesuai untuk kesehatan, rasa dan praktik keluarga," ucap Yves, seperti dilansir dari International Business Times (17/08).

Usulan Yves sudah mendapat dukungan dari beberapa anggota parlemen. Sampai hari Senin, petisi pada Change.org mendapat 13.360 dari 15.000 tanda tangan yang diperlukan.
 
Saran Yves muncul setelah pengadilan Prancis menyetujui keinginan walikota Chalon-sur-Saone, Gilles Platret, untuk menghilangkan makanan non-babi untuk pelajar di sekolah negeri Prancis, pada Kamis (14/08). Keputusan itu menyebabkan perdebatan di sana, sebab alternatif non-babi sudah ada sejak tahun 1984.

Inisiatif Gilles pun disebut kritikus sebagai aturan yang ditujukan langsung bagi populasi Muslim besar di kotanya. Adapun pemerintah lokal setempat masih perlu memberi persetujuan bagi keputusan Gilles sebelum pelajar kembali ke sekolah musim gugur ini.

Prancis memang memiliki sejarah panjang pendidikan sekuler. Bentuk ekspresi keagamaan di sekolah telah lama menjadi sorotan perdebatan.

(msa/odi)