Ada ratusan institusi yang menyediakan pendidikan di bidang perbankan dan keuangan syariah. Namun saat ini masih sedikit kurikulum yang mengangkat sektor makanan halal.
Dr. Jonathan (Bilal) AJ Wilson, Postgraduate Marketing Suite Programme Director University of Greenwich Inggris, mengungkapkan berdasarkan penelitiannya, ketiadaan kurikulum halal jika dibandingkan dengan peningkatan ilmu di bidang ini. Ia pun mengajak pembicara dalam diskusi tersebut untuk mengatasi rintangan pengembangan kurikulum halal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prof. Pervaiz Ahmad, Direktur Halal Ecosystem Monash University Malaysia, juga membagi pengamatannya terkait kuliah keuangan syariah. Ia menyebut adanya kemungkinan lebih banyak pelajar non muslim dibanding muslim pada kuliah tersebut.
"Mereka tertarik untuk tahu mengenai ruang Islam sementara pelajar muslim berpikir mereka sudah tahu semuanya," tambah Pervaiz Ahmad.
Tidak terbatasnya fokus dunia Islam dan pendidikan halal hanya pada muslim, membuat seluruh pembicara sepakat bahwa pendidikan halal serta kurikulumnya bisa dibuat untuk muslim dan non muslim.
Pertumbuhan riset, edukasi dan training halal, menyadarkan institusi pendidikan dan fakultas untuk memajukan area ini.
"Ada institusi lokal Malaysia yang menawarkan gelar spesialis halal, seperti Universiti Teknologi MARA (UiTM) dan Universiti Malaysia Pahang. Bagi yang tertarik dapat memilih short course sebelum masuk program intermediate dan advance," ucap Prof. Dr. Faridah Hassan, Direktur iHalal Management and Science, UiTM.
Kurikulum halal juga mempunyai potensi untuk mendidik pelajar jadi lebih terampil untuk bekerja. Tidak hanya terbatas pada food science, tapi pendidikan bisa mencakup bidang lain seperti IT, marketing, psikologi dan lainnya.
Karena ada kesenjangan dalam tingkat kualifikasi profesional, sehingga disepakati masih banyak ruang untuk perkembangan edukasi halal.
(msa/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN