Daging Halal Banyak Diproduksi Negara Minoritas Muslim, Penanganan Hewan Perlu Diawasi Ketat

Daging Halal Banyak Diproduksi Negara Minoritas Muslim, Penanganan Hewan Perlu Diawasi Ketat

- detikFood
Selasa, 07 Apr 2015 12:50 WIB
Ilustrasi: Getty Images
Jakarta - Makanan halal banyak yang diproduksi negara dengan minoritas muslim. Pemeliharaan integritas halal di negara-negara tersebut pun semakin menjadi sorotan internasional.

Salah satu sesi Certifiers Forum di World Halal Summit 2015 menyarankan perlunya negara-negara dalam Organisation of Islamic Cooperation (OIC) mengambil peran utama dalam menangani isu di negara non-muslim. Seperti masalah kesejahteraan hewan yang berkaitan dengan standar halal.

Selama beberapa bulan terakhir, banyak laporan mengenai kekejaman terhadap hewan di tempat penjagalan. Hal ini menimbulkan kritik baik dari kelompok pembela hak hewan dan masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Negara muslim harus memberikan contoh penanganan hewan sesuai ajaran Islam. OIC perlu melakukan kampanye PR global untuk menyampaikan bahwa Islam mewajibkan adanya kesejahteraan hewan dalam peternakannya," tutur Saqib Mohammed, General Manager Halal Food Authority Inggris, dalam forum bertopik "Halal Integrity Systems for Non-Muslim Countries" (01/04).

Dalam aturan halal, hewan harus dibesarkan dan diperlakukan dengan baik. Hewan seharusnya tidak melihat pisau atau bahkan melihat kematian hewan lainnya sebelum mereka disembelih. Sebaiknya hewan juga disembelih dengan cepat menggunakan pisau tajam di lehernya.

Metode penyembelihan hewan tersebut seringkali dianggap kejam oleh aktivis hak hewan. Padahal dalam Islam metode penyembelihan ini dianjurkan karena bertujuan mengurangi rasa sakit dan penderitaan hewan.

Para ahli mengatakan bahwa hewan yang disembelih secara Islam tidak menderita jika dilakukan dengan cepat dan cukup bersih. Sebab hewan kehilangan kesadaran sebelum otak dapat merasakan sakit.

Sesi diskusi ini juga mengajak muslim menjadi pemimpin pasar dalam industri halal. Seorang peserta diskusi dari Australia menyebut perlunya pemerintah bekerja sama dengan organisasi Islam, Departemen Pertanian dan perusahaan untuk produksi barang halal. Sehingga tidak menghadapi isu besar dalam standar halal.

Ia juga menyebut salah satu tantangan utama dalam negara non muslim adalah memperkecil kekhawatiran yang timbul dari kelompok pembela hak hewan. Ini dapat dilakukan dengan edukasi dan ​kesadaran​.

Perusahaan Australia sendiri melakukan ekspor produk halal ke Timur Tengah, Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Mesir dan Qatar. Sementara itu, supermarket Eropa seperti Carrefour juga aktif menyediakan makanan halal untuk memenuhi permintaan lebih dari 30 juta muslim di Eropa.

Ketersediaan makanan halal mulai dari daging segar hingga makanan olahan tampak semakin meningkat di negara non muslim. Hal ini menunjukkan permintaan produk halal terus mengalami kenaikan.

(msa/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads