Ekspor Daging Halal Pakistan Capai Rekor Tertinggi

Ekspor Daging Halal Pakistan Capai Rekor Tertinggi

- detikFood
Senin, 05 Jan 2015 09:53 WIB
Foto: Getty Images
Jakarta - Ekspor daging halal di Pakistan naik 9,5% pada tahun fiskal 2014, menyentuh rekor tertinggi $230 juta (Rp 2,87 triliun). Banyak pengekspor mengatakan bahwa pasar tersebut masih memiliki ruang untuk tumbuh.

Sejak 2003, Laju Pertumbuhan Majemuk Tahunan (CAGR) ekspor daging halal Pakistan tercatat 29,1%. Menurut data Biro Statistik Pakistan, angkanya naik dari $14 juta (Rp 174,8 miliar) di 2003 menjadi $230 juta (Rp 2,87 triliun) di tahun fiskal 2014.

Meski kenaikan tersebut tinggi, para pakar di bidangnya yakin bahwa sektor ini masih kurang berkembang. "Saya percaya diri bahwa hanya segmen unggas dibanding jenis daging lain yang akan menyentuh nilai ekspor $2 miliar (Rp 24,9 triliun) dalam beberapa tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sedikit upaya serius untuk sektor ini, ekspor daging akan segera menjadi sumber pertukaran uang asing utama bagi Pakistan," jelas Abdul Basit, seorang pengekspor unggas terkemuka, seperti diberitakan The Express Tribune (04/01/2015).

Target tersebut tampak ambisius, terutama jika mempertimbangkan fakta bahwa ekspor unggas dari Pakistan hanya $13,4 juta (Rp 167,3 miliar) pada 2013. Sejumlah besar ekspor daging Pakistan adalah daging merah, terutama daging sapi yang mengambil alih lebih dari setengah total ekspor.

Bicara soal pasar, Arab Saudi mengambil alih posisi Uni Emirat Arab sebagai pasar ekspor terbesar Pakistan pada 2012. Hampir 88% ekspor Pakistan ditujukan bagi negara-negara Teluk Arab, sementara sisanya kebanyakan dikirimkan ke Iran dan Vietnam.

Seperti kebanyakan sektor baru, ekspor daging memiliki tantangan. Meski Pakistan memiliki populasi hewan ternak terbesar kedelapan di dunia dan memiliki populasi kambing dan domba yang masuk deretan 10 teratas, negara ini menghadapi masalah penyelundupan yang signifikan.

Ternak diselundupkan hidup-hidup melintasi perbatasan negara-negara yang kekurangan daging, seperti Iran dan Afghanistan. Hal ini menyebabkan masalah pasokan bagi para pengekspor daging yang tak mengelola peternakan sendiri.

Masalah lain untuk banyak pengekspor adalah mereka sering berhubungan dengan pembeli sektor informal di teluk Arab. Seringkali mereka tak menggunakan jalur pembayaran yang tepat serta mencicil kepada pengekspor. Karena itu diperlukan modal kerja yang sangat tinggi.

(fit/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads