Mulai 1 Januari tahun depan, tak akan ada daging halal maupun daging kosher di sekolah-sekolah di kota Sarge-les-Le Mans, Prancis. Menurut walikota Marcel Mortreau, keputusannya didasari prinsip kenetralan Republik.
"Walikota tak perlu menyediakan makanan sesuai kebutuhan agama. Inilah prinsip sekularisme," kata Mortreau kepada radio Europe1.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gerakan ini didukung balaikota dengan alasan penyedia makanan perlu bekerja ekstra jika mereka harus mengantarkan daging pengganti. Beberapa sekolah negeri juga setuju dengan aturan ini.
"Kami tidak membuka kantin sekolah untuk alasan partisan, agama, filosofi, maupun budaya," ujar Eric Le Moal, direktur sebuah sekolah negeri di daerah Lezignan-Corbieres, Prancis.
Orang tua dan siswa muslim geram terhadap keputusan sang walikota. "Menyantap dua starter tidak sama dengan memakan sepiring daging. Daging diperlukan bagi tubuh untuk bekerja dan berpikir. Saya butuh daging, ini hal penting," ungkap seorang siswa, Tarik..
Ibu Tarik, Yasmine, menyebut kebijakan baru ini diskriminasi. Iapun menyuarakan kemarahannya karena harus mengatakan kepada anak kecil 'Kamu akan makan lebih sedikit hari ini karena ada daging babi di menu'.
"Ada yang berkomentar 'Kalau tak suka, bawa pulang anakmu'. Rasanya menyakitkan," tambah Yasmine, seperti dilaporkan situs The Local (15/12/2014).
Bagaimanapun juga, beberapa pihak mendukung para orang tua dan siswa muslim. Salah satunya adalah Walikota Paris Jean Tiberi yang mengatakan bahwa gerakan tersebut bertujuan untuk 'menstigmatisasi muslim'.
Sebelumnya, ketua National Front juga berpendapat bahwa penyediaan makanan halal di sekolah bertentangan dengan nilai sekuler Prancis. Iapun mengumumkan bahwa kota-kota yang dimenangi partainya akan melarang penyajian hidangan halal di sekolah.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN