Majalah wisata terkemuka Lonely Planet Traveler menyebut Hanoi sebagai destinasi wisata kota terbaik di Vietnam pada 2012. Di tahun yang sama, kota ini juga masuk daftar 10 tujuan menarik di Asia versi Smart Travel Asia, majalah wisata online Hong Kong.
Namun, tidak ada hotel maupun restoran halal di Hanoi saat itu. Sementara itu, di Ho Chi Minh City, setidaknya ada selusin restoran muslim. Jadi, bersama rekannya, Segaran membeli sebuah hotel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tak mau menyerah. Karena itu, saya memutuskan memulai pemasaran dan kegiatan promosi intensif di Malaysia, Indonesia, dan Brunei. Saya mengatakan bahwa para turis muslim bisa menikmati Vietnam dalam lingkungan Islami," kata Segaran kepada The Rakyat Post (12/11/2014).
Segaran mengandalkan harga akomodasi dan makanan di Vietnam yang sangat masuk akal. Iapun memanfaatkan media sosial seperti Facebook semaksimal mungkin.
Menurut pria yang mengawali karirnya sebagai chef di Shangri-La Kuala Lumpur, Malaysia pada awal 1980-an ini, Vietnam adalah surga pecinta jajanan pinggir jalan. Namun bagi wisatawan muslim pilihannya terbatas karena soal kehalalannya.
"Agar bisa menyediakan makanan halal, saya membawa chef dari Malaysia untuk melatih para koki lokal," jelas Segaran. Hotelnyapun memperoleh sertifikat halal dari masjid dan organisasi muslim setempat.
Bahkan, d'Lions Restaurant di hotelnya di Hanoi mendapat rating AAA, nilai tertinggi yang bisa diberi CrescentRating. CrescentRating adalah perusahaan audit swasta yang memberikan penilaian terhadap pelayanan dan fasilitas yang ditawarkan hotel kepada muslim.
Meski belum membangun kerajaan bisnis, Segaran kini memiliki total tiga hotel di Hanoi, Ho Chi Minch City, dan Sapa.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN