Technology Park Malaysia (TPM) mengembangkan unit Halal CSI (Contamination Scene Investigation) untuk memecahkan kasus produk bersertifikat halal yang terkontaminasi DNA babi. Salah satu insiden yang paling terkemuka tahun ini adalah kasus cokelat Cadbury di Malaysia.
Menurut analisis Kementerian Kesehatan, terdapat DNA babi dalam sampel Cadbury Milk Chocolate dan Cadbury Milk Chocolate with Hazelnut yang sudah bersertifikat halal. Namun, Departemen Kimia dengan laboratorium yang diakui Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) menyatakan bahwa tidak ada DNA babi di kedua produk tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Manajer Biotech TPM Nor Amin Mohd Noor, memastikan apakah kontaminasi tersebut disebabkan oleh sabotase, kesalahan formulasi, atau selama pascaproduksi bisa membersihkan nama perusahaan yang terlibat jika mereka tidak bersalah.
"Namun, jika laporan CSI menyatakan bahwa mereka bersalah, mereka akan diproses sesuai peraturan. Muslim juga tenang mengetahui bahwa investigasi menyeluruh telah dilakukan terhadap produk dan perusahaan yang terlibat," kata Noor.
Noor yang berpengalaman di bidang analisis laboratorium halal menggagas ide ini empat tahun lalu. Jika bukti kecurangan ditemukan, Halal CSI akan menyelidiki sumber sampel, pengirim, dan orang yang menangani sampel tersebut.
Penyelidikan proses formulasi memerlukan pengecekan ada atau tidaknya komunitas halal di perusahaan. Tujuannya untuk memastikan semua item atau bahan diperiksa dan diawasi kehalalannya sebelum diproduksi. Jika tidak ada komunitas halal, ahli di bidang formulasi dibutuhkan untuk mengusut setiap bahan yang digunakan secara mendalam.
Menurut Noor, bagian yang paling sulit dilacak adalah sumber kontaminasi karena memerlukan keahlian dari banyak pihak. "Sama seperti menyelidiki kasus pembunuhan. Setelah tim forensik menemukan mayat, mereka harus melakukan pengusutan mendalam sambil mempertimbangkan beberapa kemungkinan," jelas Noor.
Menurut Bernama (10/11/2014), dalam mengusut ketidakberesan produk halal, pencemarnya bisa saja berasal dari luar pabrik. Contohnya truk yang dipakai untuk membawa barang-barang.
"Semuanya harus diperhitungkan. Siapa supir dan pemiliknya, apakah truk tersebut digunakan untuk membawa produk nonhalal yang mengandung DNA babi, dan apakah truk dibersihkan dengan baik setelahnya. Semuanya, sampai hal-hal terkecil sekalipun," kata Noor.
Halal CSI juga akan menyelidiki pengemasan dan penyimpanan produk untuk melihat apakah rentan terkena kontaminasi. Jika hasilnya negatif, Halal CSI akan mengecek laboratorium yang mengklaim menemukan DNA babi. Hal ini dilakukan untuk menguji prosedur yang digunakan selama analisis, apakah sesuai standar yang benar dan dilakukan oleh profesional terlatih.
"Kami akan mencari segala kemungkinan. Kami akan mengirimkan laporan komprehensif kepada pihak berwenang sehingga bisa dimanfaatkan oleh pihak yang tak bersalah," ujar Noor.
TPM memiliki laboratorium sains halal yang mampu menjalankan lima jenis analisis yakni uji DNA, uji kandungan alkohol, uji polipeptida untuk produk berbahan gelatin, dan uji trigliserida untuk pengemulsi.
Laboratorium ini juga dapat menganalisis metil ester asam lemak untuk produk berbahan minyak dan lemak serta menawarkan alat uji cepat untuk produk makanan kalengan dan makanan hewan. Namun saat ini hanya ada delapan spesialis yang bekerja di Laboratorium Sains Halal.
Noor mengatakan bahwa laboratorium ini tak bisa beroperasi sendiri serta memerlukan keahlian dari lembaga lain, khususnya di bidang transportasi, formulasi, dan kebijakan. Diperlukan pula Prosedur Operasi Standar (SOP) untuk setiap tahap investigasi.
"Halal CSI adalah rencana besar yang memerlukan keterlibatan banyak pihak. Beberapa pihak sudah menyatakan keinginannya untuk berpartisipasi," ujar Noor.
Menurut Noor, layanan yang ditawarkan sekarang masih mendasar dan terbatas. "Banyak pihak yang masih belum bisa melihat manfaat Halal CSI bagi mereka," kata Noor. Ia berharap unit ini bisa beroperasi penuh dalam waktu lima tahun.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN