Memakan Daging Kelelawar untuk Obat Asma, Halal atau Haram?

- detikFood Rabu, 05 Feb 2014 07:12 WIB
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta - Di beberapa daerah, daging kelelawar dikonsumsi manusia. Daging mamalia bersayap ini juga diyakini dapat menyembuhkan asma. Bagaimanakah hukum mengonsumsi daging kelelawar untuk obat menurut Islam?

Dr. KH. Maulana Hasanuddin, MA (Wakil Ketua) dan Drs. H. Sholahudin al-Aiyubi, MSi (Wakil Sekretaris) Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menjawab lewat Jurnal Halal No. 105 edisi Januari-Februari 2014. Mereka mengatakan bahwa Alquran tak menyebutkan larangan memakan daging kelelawar secara jelas.

Namun, Imam Syihabuddin asy-Syafi'i dalam kitab 'at-Tibyan li Maa Yuhallal wa Yuharram min al-Hayawan' serta Imam Nawawi dalam 'Al-Majmu' Syarah Muhadzdzab' mengatakan bahwa menurut mazhab Syafi'i, kelelawar haram dikonsumsi.

Dalilnya adalah hadis Nabi yang melarang kita membunuh kelelawar (HR Abu Dawud). Berdasarkan hadis tersebut, Imam Syihabuddin menyimpulkan bahwa apa yang tak boleh dibunuh, berarti tidak boleh dimakan.

Ada perbedaan pendapat terkait hukum berobat dengan benda yang najis dan haram seperti kelelawar. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah adalah salah satu ulama yang mengharamkan.

Ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang berbunyi: "Sesungguhnya Allah tidak menjadikan obat bagimu pada apa-apa yang diharamkan Allah atasmu." (HR Bukhari dan Baihaqi).

Adapula hadis yang berbunyi: "Sesungguhnya Allah SWT menurunkan penyakit dan obat, dan menjadikan setiap penyakit ada obatnya. Hendaklah kalian berobat, dan janganlah kalian berobat dengan sesuatu yang haram." (HR Abu Dawud).

Bagaimanapun juga, sebagian ulama seperti Yusuf al-Qaradhawi berpendapat bahwa konsumsi bahan haram untuk obat diperbolehkan jika dalam kondisi darurat. Artinya, tidak ada lagi obat halal yang ampuh.

Kalau tidak menggunakan bahan haram, penyakitnya akan semakin parah, tak bisa sembuh, atau berakibat kematian. Namun, kalau masih ada alternatif (halal), tidak ada keringanan maupun toleransi.

Bagaimanapun juga, Komisi Fatwa MUI Pusat mengingatkan agar kita selalu mengonsumsi obat yang telah jelas kehalalannya. "Jangan menyerempet bahaya atau yang diragukan status halalnya. Pasalnya, mengonsumsi sesuatu yang halal adalah perintah agama yang wajib diikuti," tulis lembaga ini.



(fit/odi)