Profesor Havinga dari Institut Sosiologi Hukum di Radboud University mengatakan bahwa standar halal di Eropa saat ini dikelola oleh banyak pihak yang memiliki sudut pandang berbeda. Tak hanya organisasi nasional dan independen saja yang berbeda pendapat tentang ketentuan halal, dalam komunitas relijiusnya juga tidak konsisten.
European Committee for Standardisation (CEN) sedang menyusun standar yang dapat diterapkan oleh perusahaan secara sukarela. Hal ini dapat mendorong sistem resmi sertifikasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada tidaknya standar Eropa untuk produk halal nantinya, tergantung perkembangan yang bisa diraih komite proyek CEN baru yang menangani produk halal," ujar Van Vlierden kepada FoodNavigator (31/10/13).
Orhan Adamcil, ketua auditor Halal Feed and Food Inspection Authority (HFFIA), mengatakan bahwa CEN seharusnya tidak membuat standar halal. "Standar halal seharusnya berada di bawah bimbingan dan perlindungan lembaga ulama Islam independen di Eropa," ujarnya.
Menurut Havinga, banyak organisasi halal internasional yang patut dipertimbangkan, terutama dari Indonesia dan Malaysia. Namun, lembaga-lembaga ini berhubungan dengan pemerintah di luar Eropa, sehingga bisa menimbulkan masalah. "Kami tak menginginkan campur tangan pemerintah asing dalam menentukan apa yang harus kami lakukan (di Eropa)," tegas Havinga.
Selain itu, menurut Havinga, dengan kondisi demikian pasar halal rentan penggelapan dan penipuan. Pasalnya, semakin mahal proses penyembelihan, harga produk akhirnyapun cenderung semakin tinggi.
Tidak adanya standar Eropa juga membuat para penggelap memberikan harga yang lebih mahal namun tidak menjalankan proses dengan biaya lebih tinggi yang diperlukan agar sebuah produk disebut halal.
Van Vlierden berpendapat bahwa perusahaan halal yang cerdas akan mendesak dibuatnya standar dan kemudian sertifikasi. Pasalnya, hal ini sesuai dengan kepentingan mereka untuk membuktikan kepada pelanggan bahwa persyaratan halal telah mereka terapkan.
(dni/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN