Diakui Sapta Nirwandar, selaku Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, permintaan wisatawan muslim akan wisata syariah sangat tinggi jumlahnya. Apalagi jumlah wisatawan muslim angkanya meroket tajam dari tahun ke tahun. Karenanya, ada potensi besar untuk mengembangkan wisata ini.
"Jika ada wisata syariah, maka peserta wisatanya diarahkan pada hotel dan restoran yang halal dan sesuai syariah. Kita bisa memberikan fasilitas bagi umat Islam," kata Sapta pada acara milad LPPOM MUI ke 24, pada Selasa (08/01) lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indonesia sendiri sebenarnya terbilang ketinggalan dalam mengembangkan wisata syariah, dibandingkan dengan Thailand, Malaysia, juga Thailand yang sudah lebih dulu menjalankan program ini. Bahkan Korea Selatan yang bukan negara muslim juga dirasa sudah sangat siap melayani wisatawan Muslim. Terbukti di Itaewon, Seoul, sudah berdiri beragam restoran dan toko halal.
Dalam hal kuliner halal, LPPOM MUI juga turut mengawal misi Kemenparekraf dalam mengembangkan wisata syariah. Menurut Wakil Direktur LPPOM MUI, Ir. Osmena Gunawan, seperti dikutip dari Jurnal Halal, hotel, restoran, katering, maupun travel agency menjadi ujung tombak dalam pemenuhan kebutuhan kuliner dalam dunia pariwisata syariah.
Sebagai gambaran, Surabaya, misalnya, dikenal dengan menu khas rujak cingur. Karenanya, harus ada beberapa pedagang yang sudah mengantongi sertifikasi halal. Di Indonesia, terdapat sekitar 430 Kabupaten/Kota yang memiliki makanan khas dengan ciri unik tersendiri. Tentu potensi ini bisa dimanfaatkan untuk mendukung wisata syariah.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN