China-Arab States Economic and Trade Forum yang sudah berlangsung sejak kemarin (21/9) akan membahas mengenai masalah penting bagaimana memperkuat hubungan ekonomi antara Cina dan negara-negara Arab. Dalam forum ini juga akan dibicarakan pula isu-isu yang berhubungan dengan perluasan industri makanan halal Cina. Termasuk bentuk perdagangan dengan menggunakan mata uang yuan serta joint financing untuk menggarap proyek-proyek konstruksi di Timur Tengah termasuk Mesir, Tunisia, dan Libia.
Forum yang diselenggarakan untuk kedua kalinya ini bertempat di Yinchuan, ibu kota yang terletak di barat laut daerah otonom Ningxia Hui. Dibuka langsung oleh Jia Qinglin selaku penasehat politik terkenal Cina yang juga menduduki jabatan sebagai komite nasional dari Chinese People's Political Consultative Conference.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti yang dilansir dari Gulf News, Wang Zhengwei, ketua dari People's Government kota Ningxia Hui mengatakan bahwa Ningxia akan memberlakukan kebijakan pajak istimewa dari para pelaku bisnis dari negara negara Arab yang ingin mengambil keuntungan dibidang pelayanan manufaktur, desain, eksposisi dan logisik bagi negara-negara muslim.
Walaupun forum pemerintah setempat belum menyebutkan secara langsung, tetapi para pelaku bisnis Cina berharap dapat bekerjasama dengan menggunakan mata uang yuan. Sementara itu Beijing telah berusaha untuk mendorong negara-negara di luar Cina untuk memakai yuan sebagai mata uang internasional.
Dalam beberapa tahun terakhir Cina telah melakukan ekspansi besar-besaran baik dalam bidang investasi dan ekspor tenaga kerja ke negara-negara Arab. Cina juga berusaha untuk membangun industri keuangan berbasis syariah melalui kerjasama perusahaan keuangan di negara Timur Tengah dan negara muslim lainnya.
Apakah Free Trade Zone ini akan terealisasi dengan baik, hasilnya akan diperoleh setelah China-Arab States Economic and Trade Forum berakhir pada tanggal 25 September 2011 nanti.
(dev/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN