Perusahaan-perusahaan di Eropa kini telah menyediakan makanan halal untuk komunitas muslim disana. Kini bisnis di AS pun tak ketinggalan akan segera mengikutinya. Mereka menilai keuntungan yang akan didapatkan jauh lebih besar daripada kerugian karena mendekati segmen pasar tertentu dalam hal ini muslim.
Sejumlah besar muslim datang ke AS untuk meraih gelar doktor, insinyur dan medis, setelah pemerintah federal mempermudah proses imigrasi di tahun 1960-an. Menurut penelitian ditemukan bahwa masyarakat muslim disana lebih berpendidikan dan lebih sejahtera dibandingkan penduduk Amerika lainnya dengan persentase yang signifikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faisal Masood, seorang eksekutif Wall Street yang mengorganisir pertemuan ini, mengungkapkan ada kecenderungan industri ini tengah berkembang pesat. Di lantai bursa tahun lalu, perusahaan yang tertarik dan mulai menggarap pasar ini hanya sekitar 200. Tetapi tahun ini sudah mencapai 400 dan akan terus bertambah.
Pasar halal telah tumbuh lebih dari setengah miliar dolar tiap tahunnya. Walau bisnis utamanya ada pada penyembelihan halal, tetapi industri halal lebih luas, mencakup makanan dan bumbu yang tidak mengandung alkohol, babi dan komposisi terlarang lainnya juga untuk kosmetik, keuangan, dan pakaian.
Nestle, sebuah korporasi Eropa contohnya, memiliki 20 pabrik di Eropa dengan lini produksi yang telah disertifikasi halal. Di AS sendiri, telah berkembang restoran ikon Amerika seperti McDonald's (yang telah terkenal dengan menu halalnya di berbagai penjuru dunia) dan Wal Mart yang telah membuka area Halal. Di bulan Agustus, toko bahan makanan alami Whole Foods juga mulai menjual produk makanan halalnya untuk pertama kali yang didistribusikan secara nasional.
Memang, pertumbuhan ini tak lepas dari perlawanan anti-Islam. Seperti yang dilansir dari halalfocus.com, perusahaan di Eropa pun pada awalnya merasa khawatir dengan perlawanan anti-Islam yang akan mempengaruhi bisnis mereka. Pilihan ini menimbulkan kritik dan menjadi target pertarungan ideologi disekitar Islam dan terorisme.
Abdalhamid Evans, direktur proyek World Halal Forum Eropa - yang bekerja di industri halal global - mengungkapkan ditengah dorongan bisnis ini, beberapa perusahaan menawarkan produk halal mereka secara diam-diam.
Di Inggris, setelah Kentucky Fried Chicken (KFC) mengeluarkan pilihan menu halal, beberapa outletnya mendapatkan protes dan menu yang ditawarkan mendapatkan kritik sebagai "ayam teror". September lalu Daily Mail London melaporkan bahwa banyak supermarket, outlet cepat saji, rumah sakit, sekolah, pub, dan area olahraga seperti Wembley, memberikan pelayanan daging dan ayam halal tanpa memberitahunya pada masyarakat. Sejumlah besar daging dijual di Britain berasal dari New Zealand, dimana penyembelihan halalnya telah tersebar secara luas dan di-eksport ke negara-negara Islam.
"Halal merupakan segmen konsumen yang terus hidup," ungkap Zainab Ali, Senior Manager Marketing MoneyGram. "Anda hanya harus menyingkirkan ketakutan dan melihat konsumen halal hanya sebagai kelompok konsumen lainnya."
Bagi muslim, persoalan halal bukan semata tentang kenyamanan. Pengakuan dari perusahaan merupakan sebuah tanda penting sebagai penerimaan yang mereka perjuangkan di AS. Mereka mengikuti langkah Yahudi di AS, yang berjuang puluhan tahun untuk mendapatkan penerimaan terhadap makanan kosher mereka dan agama Yahudi itu sendiri.
Walau kadangkala menghadapi iklim yang tidak bersahabat bagi muslim, Evans, lewat World Halal Forum, berkata terdapat potensi bisnis dengan jumlah besar yang tidak dapat dielakkan para pebisnis untuk meraih konsumen muslim. Hal tersebur dikarenakan populasi muslim yang sangat besar diseluruh dunia dan kehadiran mereka di Eropa.
(dev/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN