Sluurp! Gurih Manis Soto Ayam Bokoran yang Kondang Lezatnya 72 Tahun

Warung Soto Bokoran 1949 berlokasi Jl. Plampitan No.55, Semarang. Kepopuleran warung ini membuat tempatnya dikenal sebagai destinasi wisata kuliner. Foto: detikcom/Riska Fitria

Detikcom dalam Rangkaian Ekspedisi 3.000 Kilometer bersama Wuling tak melewatkan mampir mencicipi soto ayam Bokoran. Racikan sotonya berbeda dari soto yang lain. Foto: detikcom/Riska Fitria

Dinamakan bokoran, karena racikan soto ini pertama kali dibuat oleh orang yang berada di kampung Bokoran. Awalnya mayoritas pelanggan dari keluarga Tionghoa tapi lama kelamaan menjadi populer. Foto: detikcom/Riska Fitria

Kini warung Soto Bokoran 1949 dioperasikan oleh generasi ke-4 yakni bernama Rumini. Rumini mengatakan bahwa racikannya menggunakan resep turun temurun. Foto: detikcom/Riska Fitria

Soto bokoran disajikan dalam mangkok porselen China yang mungil, diameter 12 cm. Sekilas, racikan soto ini tak jauh berbeda dengan soto ayam lainnya. Berisi suun, daging ayam suwir, tomat, daun seledri dan bawang putih goreng. Foto: detikcom/Riska Fitria

Kuahnya berwarna cokelat keruh, itu karena kuah soto berupa kaldu ayam dicampur dengan kuah sate. Begitu disajikan di atas meja kami, aroma kaldu ayam yang gurih langsung masuk ke dalam hidung. Foto: detikcom/Riska Fitria

Selain itu, juga tercium aroma kecap seperti yang digunakan pada bumbu kecap untuk sate. Pemberian bawang putih goreng yang royal juga menambah aroma pada racikan sotonya. Foto: detikcom/Riska Fitria

Rumini mengatakan bahwa sejak dulu, racikan kuah soto bokoran berupa kaldu ayam dengan kuah sate. Racikan tersebutlah yang menjadi daya tarik dari soto bokoran. Foto: detikcom/Riska Fitria

Racikan itulah yang membuat rasa kuah sotonya perpaduan antara manis dan gurih. Saat awal makan, rasa gurih yang terasa, tetapi kemudian tercecap rasa manis yang tertinggal di mulut. Foto: detikcom/Riska Fitria

Makan soto bokoran juga tak lengkap tanpa adanya menu pendamping, seperti tempe goreng, sate usus, sate ati ampela hingga sate kerang. Foto: detikcom/Riska Fitria

Warung Soto Bokoran 1949 berlokasi Jl. Plampitan No.55, Semarang. Kepopuleran warung ini membuat tempatnya dikenal sebagai destinasi wisata kuliner. Foto: detikcom/Riska Fitria
Detikcom dalam Rangkaian Ekspedisi 3.000 Kilometer bersama Wuling tak melewatkan mampir mencicipi soto ayam Bokoran. Racikan sotonya berbeda dari soto yang lain. Foto: detikcom/Riska Fitria
Dinamakan bokoran, karena racikan soto ini pertama kali dibuat oleh orang yang berada di kampung Bokoran. Awalnya mayoritas pelanggan dari keluarga Tionghoa tapi lama kelamaan menjadi populer. Foto: detikcom/Riska Fitria
Kini warung Soto Bokoran 1949 dioperasikan oleh generasi ke-4 yakni bernama Rumini. Rumini mengatakan bahwa racikannya menggunakan resep turun temurun. Foto: detikcom/Riska Fitria
Soto bokoran disajikan dalam mangkok porselen China yang mungil, diameter 12 cm. Sekilas, racikan soto ini tak jauh berbeda dengan soto ayam lainnya. Berisi suun, daging ayam suwir, tomat, daun seledri dan bawang putih goreng. Foto: detikcom/Riska Fitria
Kuahnya berwarna cokelat keruh, itu karena kuah soto berupa kaldu ayam dicampur dengan kuah sate. Begitu disajikan di atas meja kami, aroma kaldu ayam yang gurih langsung masuk ke dalam hidung. Foto: detikcom/Riska Fitria
Selain itu, juga tercium aroma kecap seperti yang digunakan pada bumbu kecap untuk sate. Pemberian bawang putih goreng yang royal juga menambah aroma pada racikan sotonya. Foto: detikcom/Riska Fitria
Rumini mengatakan bahwa sejak dulu, racikan kuah soto bokoran berupa kaldu ayam dengan kuah sate. Racikan tersebutlah yang menjadi daya tarik dari soto bokoran. Foto: detikcom/Riska Fitria
Racikan itulah yang membuat rasa kuah sotonya perpaduan antara manis dan gurih. Saat awal makan, rasa gurih yang terasa, tetapi kemudian tercecap rasa manis yang tertinggal di mulut. Foto: detikcom/Riska Fitria
Makan soto bokoran juga tak lengkap tanpa adanya menu pendamping, seperti tempe goreng, sate usus, sate ati ampela hingga sate kerang. Foto: detikcom/Riska Fitria