Pilih Jendela Kiri, Nikmati Pemandangan Spektakuler

- detikFood Rabu, 15 Jun 2011 13:56 WIB
Jakarta - Sekalipun sudah mencapai status road warrior saking seringnya bepergian ke luar kota, tak pelak usia tua kadang-kadang membuat saya merasa lelah bila harus bepergian secara maraton dari satu kota ke kota yang lain. Selain pekerjaan menumpuk yang harus diselesaikan, kondisi hotel kadang-kadang juga menentukan kualitas tidur kita di perjalanan.

Biasanya, bila menghadapi situasi seperti itu, saya segera mengoreksi situasi dengan meng-upgrade klas di penerbangan ke kursi eksekutif. Tujuannya sederhana: agar dalam penerbangan dapat "mencuri" istirahat, agar tiba di tujuan cukup segar dan langsung bekerja.

Demikianlah, kebiasaan saya untuk melakukan perjalanan secara frugal (berhemat) sesekali "kena batunya" dengan membayar surcharge pindah kelas.

Di lounge kelas eksekutif Garuda Indonesia yang nyaman di Bandara Hasanuddin, saya sempat terlelap sejenak sebelum dipanggil naik ke pesawat. Penerbangan ini tepat waktu. ETD (perkiraan waktu berangkat) pukul 12.35, dan pesawat sudah didorong keluar garbarata pukul 12.40, kemudian lepas landas pukul 12.48 dari runway 03.

Saya hampir saja memberitahu pramugari agar tidur saya jangan diganggu sepanjang penerbangan singkat ini. Tetapi, hanya 12 menit setelah airborne, ternyata kereta makanan sudah muncul di aisle. Efisien juga layanan ini.

Menu makan siangnya cukup menarik. Sayangnya, appetizer-nya kurang menarik. Potato salad dengan buncis yang warnanya pucat dan citarasanya pas-pasan. Untungnya, main course-nya bagus. Nasi putihnya pulen dan harum. Lauknya ikan woku blanga yang sungguh lezat. Mungkin ada sedikit perbedaan nomenklatur. Masakan ini sebetulnya lebih tepat disebut tinoransak, karena woku blanga warnanya kuning dan karakter rasanya tidak terlalu pedas. Apapun namanya, rasanya tetap lezat. Dessert-nya juga unik. Pisang epek khas Makassar.

Setelah menyelesaikan makan siang dengan cepat, saya pun tertidur nyenyak. Kursi klas eksekutif yang lebar dan nyaman ini memang tok cer untuk napping sejenak. Saya terbangun ketika pesawat sudah mengeluarkan roda menjelang pendaratan di Manado.

Usahakan untuk mendapat kursi di jendela sisi kiri bila menerbangi rute Makassar-Manado ini. Soalnya, dari sisi ini kita akan dapat melihat pemandangan indah sesaat sebelum mendarat di Bandara Sam Ratulangi. Laut biru bersih tampak ketik pesawat mencapai final approach. Pada downwind leg, Gunung Manado Tua tampak menyembul dari laut. Dan pada posisi base leg, Kota Manado dan pantainya terhampar seluas-luasnya di bawah kita.

Penerbangan mulus ini mendarat di landasan basah bekas hujan pada pukul 14.14 – beberapa menit mendahului jadwal. Di dinding depan bangunan bandara terpampang tulisan besar: Sitou Tumou Timou Tou. Ini adalah semboyan Dr. Sam Ratulangi, Pahlawan Nasional asal Sulawesi Utara. Maknanya: mari kita memanusiakan manusia. Yuk, mariiii!

Tanggal: 7 Juni 2011
Maskapai: Garuda Indonesia
Flight No.: GA602
Rute: UPG (Makassar) – MDO (Manado)
Jarak/Waktu: 1 jam 26 menit
Pesawat: B737 800
Nomor Kursi: 3A
Kelas: Eksekutif




(dev/Odi)