Sekuntum Anggrek untuk Tiap Penumpang Perempuan

- detikFood Rabu, 04 Mei 2011 16:40 WIB
Jakarta - "Savas-dee-ka," begitulah sapaan ramah pramugari Thai kepada setiap penumpang yang masuk ke kabin pesawat. Sebagian pramugari memakai seragam, sebagian yang lain mengenakan kain-kebaya dari batis (tenun khas Thailand). Korsase anggrek segar tampak menonjol di dada mereka - bunga yang dibanggakan Thailand.

Kabin pesawat Thai selalu tampak cerah. Lampu interiornya terang, dan kursi-kursinya disalut dengan kain berwarna-warni cerah: ungu, kuning saffron, dan merah muda. Pesawat berbadan lebar itu berisi 305 kursi. Sekalipun termasuk pesawat baru, tetapi belum punya fasilitas AVOD (Audio Video On Demand). Video disajikan lewat beberapa layar televisi yang digantung di beberapa titik.

Push back terjadi pada saat yang sama dengan ETD (Estimated Time of Departure) pada pukul 12:35 - pesawat didorong dari garbarata untuk kemudian berjalan menuju landas pacu. Kebetulan lalu lintas Bandara Soekarno-Hatta tidak terlalu ramai, sehingga sepuluh menit kemudian pesawat sudah airborne.

Hebatnya, 20 menit kemudian, ketika pesawat masih menanjak ke ketinggian jelajah, para pramugari yang semula masih mengenakan seragam kini telah bersalin dengan kain-kebaya Thai. Mereka juga sudah langsung menyuguhkan refreshment. Di kelas ekonomi, kami semua mendapat sekantung kuaci dari buah labu. Kuaci-nya sudah dikupas, sehingga tidak sulit dimakan. Jenis snack yang unik dan khas Thai.

Minuman yang disajikan cukup lengkap dan mewah. Pilihannya adalah minuman ringan, jus buah, cocktails, dan wines. Para pramugari dan pramugara tidak terlalu lancar berbahasa Inggris. Tetapi, hal itu dapat dimaafkan karena senyum mereka ramah, dan pelayanan tergolong efisien dan cepat. Hanya ada seorang yang pramugari yang agak cemberut. Mungkin karena dia yang paling muda, paling cantik, dan beberapa penumpang Indonesia menggoda dia sebagai Agnes Monica. Memang, agak mirip, sih.

Makan siang disajikan sejam setelah lepas landas. Untuk hidangan utama, pilihannya adalah nasi dengan kari ayam, atau kentang dengan ikan. Appetizer-nya adalah shrimp salad, dan dessert-nya adalah strawberry mousse. Saya memilih nasi dengan kari ayam, dan sungguh tidak menyesal atas pilihan itu. Chardonay Prancis yang mendampingi masakan ayam gurih ini pun terasa sepadan. Teh dan kopinya pun berkualitas baik.

Satu-satunya kekecewaan yang saya temui di baki makan siang ini adalah kenyataan bahwa ternyata Thai telah mengganti tusuk gigi yang disediakan. Selama puluhan tahun saya telah menjadi kolektor tusuk gigi kayu dari Thai Airways yang sangat khas. 10 tusuk gigi terangkai menjadi satu, dan dipatahkan satu per satu sesuai kebutuhan, dikemas dalam kantung plastik kecil. Sangat praktis untuk dibawa bepergian. Sayangnya, tusuk gigi itu sekarang tidak lagi dibagikan. Hiks!

Setelah kapten penerbang mengumumkan bahwa pesawat mulai turun menuju bandara Suvarnabhumi, 30 menit sebelum ketibaan, para pramugari segera bersalin pakaian. Mereka menanggalkan kain-kebaya dan menukarnya dengan seragam Thai. Setiap penumpang perempuan diberi korsase bunga anggrek segar. Nice touch!

Pukul 15.50 - 15 menit mendahului ETA (Estimated Time of Arrival) - Airbus seri 330-300 ini mendarat dengan mulus di Suvarnabumi. Proses imigrasi, pengambilan bagasi, dan bea cukai berlangsung dengan efisien.

Tanggal: 18 April 2011
Maskapai: Thai Airways
Flight No.: TG434
Rute: CGK (Cengkareng-Jakarta) - BKK (Bangkok-Suvarnabhumi)
Jarak/Waktu: 3 jam 15 menit
Pesawat: A330-300
Nomor Kursi: 43D - aisle
Kelas: Ekonomi



(dev/Odi)