Melintasi Pasifik dengan Si Gagah Jumbo

- detikFood Kamis, 07 Apr 2011 11:35 WIB
Jakarta - Entah kenapa, tiba-tiba saya menjadi begitu bungah ketika melihat pesawat yang akan menerbangkan kami untuk perjalanan panjang ini adalah Si Jumbo - Boeing 747-400. Ini adalah salah satu pesawat dengan rekor keselamatan terbang terbaik yang selalu menjadi favorit saya. Sayangnya, saya terlambat mengetahuinya, sehingga tidak memesan kursi di dek atas.

Untuk penerbangan melintasi Pasifik ini, ada lima orang penerbang yang bertugas - salah seorang di antaranya perempuan, dan seorang first officer berkebangsaan Jepang yang sudah menyandang empat strip di bahunya. Untuk melayani sekitar 400 penumpang, ada 15 pramugari/a yang bertugas.

Tempat duduk di kelas bisnisnya masih merupakan kursi kapsul generasi pertama. Sudah bisa rebah 180 derajat dan dikendalikan dengan listrik, tetapi masih yang model lama dan disusun semua menghadap ke depan. Generasi baru kursi kapsul sekarang biasanya ditata miring, sehingga privasi antar-penumpang menjadi lebih baik. Bantalnya seukuran bantal kita di rumah pada umumnya, dan selimutnya pun lebar dan tebal. Keduanya menjamin tidur yang lebih nyaman untuk penerbangan panjang. Kursinya pun dapat memijat bagian punggung kita. Tiap kursi memiliki layar video dengan fasilitas video on demand.

Sambil menunggu saat makan malam, disajikan kacang mede dan almond hangat untuk mendampingi cocktail. Saya memilih champagne Jacquart. Sekalipun termasuk mass produced champagne, tetapi setidaknya Jacquart adalah champagne, bukan sparkling wine.

Makan malam disajikan ketika pesawat berada di ketinggian jelajah 13 kilometer di atas Canadian Rocky Mountains. Melihat menu-nya, ini memang termasuk elaborate dinner. Penyajiannya saja makan waktu sekitar satu jam. Appetizer-nya adalah dada bebek dengan couscous salad. Sup yang menyusul kemudian adalah pumpkin bisque. Kemudian mixed green salad dengan taburan pecan, pecorino (keju kambing), dan irisan paprika kuning.

Sayangnya, main course yang saya pesan justru tidak menarik - baik secara penampilan maupun citarasa. Pilihan saya adalah grilled beef tenderloin with scampi disajikan dengan lemon risotto dan sugar peas. Menurut saya, porsi ini dipanaskan secara salah. Over cooked! Beef-nya sudah well done. Sugar peas-nya sudah lonyot dengan warna yang tidak menarik. Untungnya, Haut Medoc dari Chateau Beaumont yang menemani sajian ini sungguh tidak buruk. Nose-nya cedar dan blackcurrant, dengan mocha finish yang cantik.

Makan malam diakhir dengan pilihan - boleh juga memilih semua - es krim vanilla, New York cheese cake, atau pilihan keju. Sayangnya, keju brie dan comte yang saya pilih justru berkualitas ala kadarnya. Hmm, salahnya, sehari sebelumnya saya makan malam di L'Espalier di Boston dengan kualitas sajian yang mengagumkan. Apel memang tidak boleh dibandingkan dengan jeruk, bukan?

Untungnya, kualitas pre-arrival meal ringan yang disajikan delapan jam kemudian justru lebih baik daripada makan malam. Telur orak-arik dengan paprika di atas English muffin, beberapa iris linguica (sosis Portugis), yoghurt, dan buah potong.

Sejam sebelum mendarat di Tokyo, kapten penerbang menjelaskan bahwa untuk sementara ini jalur penerbangan harus mengalami diversion agar berjarak 300 mil dari kawasan radiasi Fukushima.

Si Gagah Jumbo akhirnya mendarat dengan mulus di landasan 34R Narita. Di latar belakang, matahari terbenam tampak begitu indahnya.

Tanggal:  3 April 2011
Maskapai:  Delta Airlines
Flight No:   DL-275
Rute:  DTW (Detroit) – NRT (Narita Tokyo)
Jarak/Waktu:  10.447 km, 12 jam 41 menit
Pesawat:   B747-400
Nomor Kursi:  12B - aisle
Kelas:  Business Elite




(dev/Odi)