Sarapan Nasi Lemak di Udara

- detikFood Selasa, 25 Jan 2011 11:55 WIB
Jakarta - Pesawat tiba terlambat dari Kuala Lumpur, sehingga ETD (Estimated Time of Departure) pukul 9.20 terlewati. Boarding baru dapat dilakukan pukul 10.00. Eh, ternyata ada seorang penumpang yang tidak hadir. Proses untuk mencari dan menurunkan bagasi yang sudah terlanjur dipunggah memerlukan waktu cukup lama. (Catatan: peraturan penerbangan mengharuskan bagasi penumpang yang batal terbang harus diturunkan dari pesawat untuk mencegah berbagai kemungkinan).
   
Alhasil, pesawat baru airborne pada pukul 10.40 - 1 jam 20 menit terlambat dari jadwal. Kapten penerbang mengucapkan selamat datang sambil minta maaf dengan suaranya yang ramah, jelas, dan berwibawa. Begitu juga sambutan yang disampaikan purser. Masalahnya, bagi pengguna bahasa Indonesia, bahasa Malaysia memang terdengar unik. "Kelewatan ini sungguh dikesali. (This delay is very much regretted)."
   
Patut dipuji upaya seluruh awak kabin yang ramah untuk berbahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan penumpang penerbangan yang berangkat dari Surabaya ini. Seragam mereka yang sederhana tampak rapi dan menarik. Begitu pula interior pesawat dengan kursi-kursi berlapis kulit warna hitam.
   
Pesawat berguncang-guncang menembus kabut tebal untuk mencapai ketinggian jelajah 38 ribu kaki. Sementara masih terikat kencang dengan sabuk pengaman, saya membaca majalah Travel 3-Sixty, inflight magazine AirAsia yang cukup baik mutunya.
   
Sesuai dengan standar layanan AirAsia, untuk penerbangan yang melebihi 45 menit, dilakukan penjualan makanan dan minuman di dalam pesawat. Mereka menyebutnya sebagai AirAsia Cafe. Untuk bulan Desember, ada paket khusus seharga RM 15 yang isinya: roast chicken rosemary sauce, potato dauphinoise, vicchy carrots, Christmas cookies, dan segelas kopi.
   
Saya memilih nasi lemak Pak Nasser yang dijual dengan harga RM 10. Not bad at all. Nasi lemak ini disajikan dalam keadaan panas. Tingkat kepedasannya sengaja dijinakkan agar toilet di pesawat tidak diantre orang.
   
Pilihan lain: nasi goreng RM 12, smoked chicken focaccia RM 9, Uncle Chin's chicken rice RM 9, spaghetti bolognaise RM 12, vegetable briyani RM 10, Bukhara chicken briyani RM 10, sate ayam RM 10, dan roast chicken sandwich RM 7. Ada juga pop mi seharga RM 6. Minuman yang ditawarkan - panas maupun dingin - rata-rata seharga RM 5.
   
AirAsia juga mengadakan layanan pesanan makanan sebelum terbang melalui Internet (online prebooked meals). Cara ini sangat membantu AirAsia agar tidak ada makanan yang tidak laku dijual, sedangkan untuk penumpang pun dapat dipastikan mendapat makanan yang diingini. Untuk layanan prebooked meals ini pilihannya pun lebih luas. Hebatnya lagi, sebagai World's Best Low-Cost Airline dua tahun berturut-turut (2009 dan 2010), AirAsia  memberikan printout bon makan/minum bersama uang kembalian.
   
Karena tidak ada fasilitas audio-video di pesawat, kebanyakan penumpang justru memanfaatkan waktu dengan tidur sepanjang sisa penerbangan. AirAsia juga menyediakan berbagai cenderamata yang dapat dibeli sepanjang penerbangan.
   
Dalam kondisi hujan, penerbang mendaratkan pesawat dengan mulus di Kuala Lumpur International Airport, dan merapatkan pesawat di LCC Terminal. Penerbangan hemat yang efisien dan berjalan lancer.

Tanggal:    16 Desember 2010
Maskapai:    AirAsia
Flight No.:    AK 553
Rute:        SUB (Surabaya Juanda) - KUL (Kuala Lumpur)
Jarak/Waktu:    2 jam 30 menit
Pesawat:     A-320-200
Nomor Kursi:    1D
Kelas:        Ekonomi



(eka/Odi)