HIK, Denyut Solo di Malam Hari

- detikFood Kamis, 19 Apr 2012 14:38 WIB
Foto: Bondan Winarno Foto: Bondan Winarno
Jakarta - Warga Solo mungkin sudah tak asing dengan hik. Barangkali, tanpa hik tak akan ada denyut dan degup Solo di malam hari. Dan hik memang hanya ada di Solo. Sebuah lembaga khas Solo yang tidak ada duanya di kota-kota lain. Apa sih yang dijualnya?

Pada dasarnya, hik adalah penjual wedang (minuman panas) dan jajanan maupun penganan yang cocok untuk mendampingi minuman panas itu. Di masa lalu, pedagang hik (hampir semuanya laki-laki), memikul dagangannya menyusuri jalan-jalan sempit di kampung-kampung. Satu pikulan berisi dandang air panas yang terus dijaga mendidih.

Di pikulan lain penuh jajanan, seperti: pisang goreng, pisang rebus, singkong goreng, lentho (semacam perkedel dari kacang tholo), klenyem (seperti misro di Tatar Sunda), dan banyak macam lainnya. Untuk menandai kehadirannya, si pedagang tiap sebentar meneriakkan kata “Hik!”.

Peminat akan keluar rumah, memanggil si penjaja, dan memesan minuman serta mengambil jajanan yang disukai. Para tetangga pun akan ikut berkumpul, minum dan makan bersama-sama, sambil mengobrol ngalor-ngidul dengan gayeng.

Sekarang, penjaja hik seperti itu sudah hampir tidak ada lagi. kini mereka menempatkan dagangannya di atas dan di dalam sebuah gerobak, mendorong gerobak itu ke satu pojok kampung, dan mangkal di sana menunggu pelanggannya. Para pedagang hik biasanya muncul sejak senja hari, dan terus berdagang hingga sekitar pukul tiga dinihari. Di tempat-tempat tertentu – seperti di depan Stasiun Solo Balapan dan di beberapa pasar – pedagang hik bahkan buka sampai pagi.

Itulah sebabnya hik bukan sekadar tempat berjualan minuman dan jajanan, melainkan sebuah lembaga rakyat yang telah mendenyutkan Solo setiap malam. Di sana kita bisa mendengar gosip yang paling baru. Di sana kita bisa berdebat tentang berbagai isu politik dan sosial. Di sana kita juga bisa sekadar mat-matan mendengarkan suara pesinden diiringi sitar, atau pengamen jenis musik lainnya.

Anehnya, tidak ada orang yang tahu secara pasti apa makna dan sejarah istilah ”hik” itu. Ada juga orang yang percaya bahwa kata itu sebetulnya adalah singkatan dari Hidangan Istimewa Keluarga.

Salah satu hik yang terkenal mangkal di bundaran Monumen Pers Solo, dekat Hotel Sahid Jaya dan juga dekat Novotel/Ibis. Pak Kemin yang legendaris selalu melayani pelanggannya dengan setia. Salah satu minuman populer adalah wedang tape, yaitu tape dari bahan nasi yang disedu dengan air mendidih, dibubuhi sedikit gula.

Banyak yang suka jadah (juadah) bakar, dimakan dengan ikan wader goreng (ikan kecil-kecil, biasanya dijumpai di sungai). Rempeyek udang, tahu dan tempe bacemnya juga enak. ada lagi jajanan khas yang hanya ada di warung Pak Kemin. Namanya apolo. Dibuat dari jadah ketan yang dipenyet sampai gepeng dan lebar, dioles cokelat dan gula pasir, lalu dibentuk kembali menjadi seperti lemper.

Tempat wedangan lain yang populer adalah Pak Wiryo di Jalan Perintis Kemerdekaan, daerah Purwosari. Tempat wedangan ini yang paling upscale dibanding yang lain. Bentuknya seperti rumah makan, dengan beberapa meja dan bangku panjang.

Yang spesial di Pak Wiryo adalah wedang jahe – bisa dipesan khusus dalam kemasan biang untuk disedu di rumah dengan air panas. Sego kucing-nya juga istimewa, karena nasinya dari beras berkualitas yang sangat harum ketika bungkus daun pisangnya dibuka. Di tempat Pak Wiryo, nasi kucing disebut sebagai nasi bandeng.

Secara istilah Solo, nasi kucing adalah sebungkus nasi putih porsi kecil, dengan sedikit sambal dan secuil bandeng goreng. Bila perlu tambahan lauk, tersedia sate kikil, burung puyuh goreng, tahu dan tempe bacem, serta berbagai makanan lain yang tersaji di meja. ada juga versi vegetarian dari nasi kucing yang disebut sego oseng-oseng – yaitu seporsi kecil nasi putih dengan oseng-oseng buncis dan sambal.

Penjual hik dapat ditemukan di sangat banyak tempat di Solo. Selain dua tempat yang sudah disebut terdahulu, ada lagi tempat-tempat hik yang populer dan ramai dikunjungi orang, seperti Pak Djo di depan Kodim lama Jalan Slamet Riyadi, atau Pak Muji Rahayu di dekat simpang Tipes. Tiga tempat terakhir ini menggelar tikar di sekitar gerobaknya, sehingga para pengunjung bisa duduk lesehan dengan santai.

Di kalangan anak-anak muda yang gaul, pilihan tempat wedangan mereka adalah Pak Kumis – nama aslinya adalah Mas Aris. Semula mangkal di tepi Jalan Adisucipto, Manahan. Tetapi, semua pedagang di tempat itu kemudian "ditata" di sepanjang Jalan K.S. Tubun, di depan Poltabes. Asyik, sambil wedangan bisa cuci mata juga.

Di kalangan keturunan Tionghoa dan kaum Nasrani, dikenal sebuah warung hik yang menjajakan makanan dan jajanan non-halal di Jalan Sutan Syahrir (Tambaksegaran), depan Toko Roti Ganep.

Sejak beberapa tahun belakangan, di depan Terminal Bus Karangpandan, hadir Wedangan Dul Gaul yang menjadi sangat populer. Buka sejak magrib hingga lewat tengah malam. Setiap malam terjadi konser (bokong geser) karena ramainya pengunjung, sehingga setiap kali harus menggeser pantat untuk memberi ruang bagi tamu yang baru datang.

Di Jalan Slamet Riyadi, di tikungan Jalan Keprabon, pada malam hari ada tenda penjual wedang yang terkenal dengan nama Wedang nDongo Keprabon. Wedang ndongo sebetulnya mirip dengan ronde, yaitu wedang jahe dengan bulatan-bulatan dari tepung ketan yang diisi tumbukan kacang tanah dan wijen, lalu ditaburi kacang tanah sangrai.

Di tenda ini juga bisa didapati wedang kacang. Ini sebetulnya sangat mirip dengan wedang kacang Shanghai yang bisa ditemui di Jakarta dan Bandung – yaitu kacang tanah yang direbus hancur dengan gula dan sedikit sampai lunak dan jahe, sehingga mencapai konsistensi mirip bubur, lalu dimakan dengan cakwe. Tetapi, di Solo, wedang kacangnya dimakan dengan ketan (putih) kukus.

HIK, Denyut Solo di Malam Hari

(dev/dev)