Jajan Mak Nyuss di Pasar Tradisional Solo

- detikFood Senin, 02 Jan 2012 11:55 WIB
Foto: Bondan Winarno Foto: Bondan Winarno
Solo - Ada tiga pasar yang layak dikunjungi selama berada di Solo. Yaitu Pasar Gede Harjonagoro (orang Solo menyebutnya Sargede), Pasar Klewer, dan Pasar Windujenar. Pasar Gede atau Pasar Besar adalah karya arsitek Thomas Karsten yang megah dan masih lestari hingga kini. Selesai dibangun pada tahun 1930, dan telah beberapa kali terbakar, tetapi selalu dibangun kembali mengikuti bentuk aslinya.

Sedangkan Pasar Klewer merupakan bangunan yang relatif baru setelah pasar aslinya terbakar. Sebaiknya berkunjung ke Pasar Gede di pagi hari, karena banyak jajan pasar yang dapat dijumpai di sana. ada gempol plered, mendut, bubur saren, dan berbagai jajanan lain. Di tengah pasar ada penjual dawet yang sangat khas. Dawet atau cendolnya dari tepung beras, ditambah rajangan nangka, sesendok bubur ketan hitam, sesendok bubur sumsum, dan sebungkus tape nasi berwarna hijau. Sluuurrp!

Di pintu masuk Utara juga dapat dijumpai penjaja pecel bumbu wijen. Tidak jauh dari situ ada penjual berbagai macam bothok dan pepes, antara lain cabuk, yaitu pepes wijen yang berwarna hitam karena wijen-nya dibakar dulu. Hati-hati bila menyantapnya, karena bibir dan mulut bisa jadi hitam. Ada lagi "ranjau" lain yang bernama gembrot – bothok parutan kelapa dan daun sembukan – yang bisa membuat pemakannya kentut terus.

Pasar Klewer mungkin sekali adalah pasar produk tekstil terbesar di Asia. Semula dikenal sebagai sentra penjualan batik dan lurik. Tetapi, kemudian berkembang dengan kehadiran produk tekstil lain – seperti seprei, taplak, pakaian, daster, dan lain-lain – yang lebih laku pemasarannya.

Di Pasar Klewer juga banyak penjaja makanan dan oleh-oleh berupa makanan dan kue-kue kering. Sekarang, popularitas Pasar Klewer mulai tergerus oleh kehadiran Pusat Grosiran Solo dan Beteng Mal sebagai tempat belanja yang lebih nyaman.

Pasar Windujenar – dulu dikenal dengan nama Pasar Triwindu – sekarang merupakan bagian dari Ngarsopuro, yaitu sebuah koridor yang ditata asri untuk menghubungkan Jl. Slamet Riyadi dengan gapura Pura Mangkunegaran. Setiap malam Minggu, ruas jalan ini ditutup untuk penyelenggaraan pasar malam. Pasar Windujenar sendiri masih merupakan kelanjutan dari pasar Triwindu di masa lalu, yaitu pasar yang menjajakan berbagai barang antik – asli maupun buatan baru.



(dev/Odi)