Mencicipi Teh Walini dan Dodongkal Plus Tea Walk Seru!

\'Toer de Cianjur\' Sahabat Nestle (1)

Mencicipi Teh Walini dan Dodongkal Plus Tea Walk Seru!

- detikFood
Senin, 21 Jul 2008 17:02 WIB
Jakarta - Semangat para peserta mengiringi perjalanan kami pagi itu menuju Cianjur. Rasa lelah perjalanan pun lenyap, berganti rasa gembira untuk segera melakukan tea walk. Sambutan berupa teh walini hangat dan dodongkal yang pulen pun asyik disantap. Hmm... raos pisan uey!

Hari Sabtu, 19 Juli 2008 seratus orang member Sahabat Nestle dan Detikfood berkumpul bersama untuk melakukan 'Tour de Cianjur' Sahabat Nestle. Semua peserta terlihat sangat antusias, terbukti dengan kedatangan mereka yang tepat waktu di kantor Nestle. Pukul 7 teng, empat buah bus penuh berisi para peserta langsung meluncur menuju Cianjur.

Cuaca cerah yang mendukung membuat perjalanan lancar, meski sempat sedikit tersendat di Pasar Cisarua. Di dalam bus para peserta sudah asyik menyantap snack, ada pula yang saling berkenalan sehingga membuat suasana bertambah cair dan penuh obrolan seru. Tak ketinggalan, para peserta cilik juga ikut menambah riuh suasana saat sekaleng permen Fox dari Nestle dibagi-bagikan. Nyam..nyamm rasa segar permen Fox makin menambah keceriaan!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika tiba di perkebunan PTP Nusantara VIII Gedeh, para peserta langsung disambut oleh sejuknya udara gunung Gedeh. Teh hitam walini yang hangat dan pulennya dodongkal berbalut daun pisang telah tersedia untuk dicicipi. Dodongkal sendiri merupakan kue tradisional khas Cianjur yang terbuat dari tepung beras, isinya berupa gula merah yang kemudian dicocol dengan kelapa parut. "Wah enak ya... rasanya pulen, gurih dan manis," ujar seorang peserta sambil asyik mengunyah dodongkal.

Setelah kenyang mengisi perut, Pak Irwan dari PTP Nusantara VIII Gedeh langsung mengajak rombongan untuk melakukan tea walk. "Yang ada di hadapan kita ini adalah gunung Gedeh dan dibelakangnya ada Gunung Pangrango," ujar Pak Irwan lewat corong megaphone-nya sambil menujuk gunung dihadapan mereka.

"Pak, apa sih beda teh hijau, teh hitam dan teh putih?" atau "Pak Irwan jenis teh apa saja yang diproduksi di PTP Nusantara VIII ini?" Demikian rentetan pertanyaan dari peserta yang antusias, sementara yang lain asyik berfoto ria dengan pemandangan teh dan gunung Gedeh cantik yang menjulang. Para peserta cilikpun tak kalah semangat, bahkan ngotot tak mau digendong atau digandeng meskipun jalan berliku menanjak dan keringat mulai berlelehan.

"Proses pengolahan adalah yang tersulit didalam pembuatan teh. Sedangkan teh yang biasa diambil untuk diolah adalah pucuk tehnya saja," ujar Pak Irwan sambil memetik pucuk teh untuk diperlihatkan kepada para peserta. "Pucuk tehnya berupa 3 helai daun pucuk atau daun muda. Kuncupnya disebut 'pekoe' dan yang tidak berbentuk kuncup ini disebut 'burung'," jelas Pak Irwan. "Wah, ternyata teh juga ada daun muda dan burung segala ya Pak," ujar seorang peserta pria sambil terkekeh yang disambut oleh tawa geli peserta lainnya.

Tak lama para peserta tur melanjutkan perjalanan menuju pabrik teh. Pabrik ini dibangun sejak tahun 1927, tak heran jika bangunannya terlihat tua dan berkesan lembab. Agar tidak terlalu ramai, maka para peserta pun dibagi menjadi 4 group dan masing-masing dibimbing oleh seorang pemandu.

"Hmm... harumnya bau teh bikin seger nih," ujar seorang peserta sambil mengendus-endus aroma teh yang menyeruak dari pabrik. Pertama-tama para peserta menuju ruang penimbangan daun teh yang baru dipetik. Disusul oleh ruang pelayuan, dimana dapat menampung kira-kira 3,5 ton teh. "Apa sih fungsi pelayuan ini Pak?" ujar salah seorang peserta. "Hal tersebut berfungsi untuk menurunkan kadar air pada teh menjadi kadar yang diinginkan," ujar Pak Irwan menjelaskan panjang lebar

Tur pun berlanjut ke proses pemotongan, penyortiran, hingga berakhir di proses pengepakan. "Disini bagian terakhir dari proses pembuatan teh ini. Setelah dikemas, maka teh akan dikirim ke kantor pelelangan kami di Jakarta untuk kemudian dilelang ke semua produsen teh," ujar Pak Irwan menutup akhir perjalanan dari tur di pabrik teh ini. Teh hitam Walini ini terkenal berkualitas bagus dan diekspor ke mancanegara khususnya negara-negara Eropa.

Usai melihat-lihat pabrik, para peserta pun menyempatkan diri berfoto bersama di depan pabrik teh. Tak heran jika acara berfoto berlangsung ramai. "Ayo, gentian kita doong!" teriak gerombolan peserta yang sibuk menarik-narik banner Tur Cianjur Nestle. Namun, ada pula yang asyik membeli teh hitam walini, teh hijau dan teh jahe untuk dibawa pulang.

Meskipun wajah kemerahan, keringat berlelehan, semangat peserta tetap tinggi. Turpun berlanjut menuju ke desa Cugenang, tepatnya ke Gasol pertanian organik. Masih ada acara makan siang dengan nasi berureum seungit berlauk semur jengki, menyusuri sawah organik, hingga mengintip pabrik tauco dan moci yang tak kalah seru. Penasaran? Nah, tunggu saja ya cerita selanjutnya!!

(dev/Odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads