Terus terang, kelas coffee cupping ini baru pertama kali kami adakan. Meskipun begitu, kelas ini ternyata cukup mendapat sambutan bukan saja oleh para pencinta kopi melainkan mereka yang ingin berbisnis kopi. Dari yang muda hingga yang sepuh semua datang dengan berbatik ria sesuai dress code, sehingga menambah kental suasana yang makin Indonesia.
Tak seperti biasanya, para peserta pria yang biasanya minoritas pun kini terlihat cukup berimbang dengan para peserta wanita. Tepat pukul sepuluh teng, hampir seluruh peserta telah duduk manis di lantai 2 Anomali Coffee.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Coffee cupping merupakan istilah untuk sebuah cara mencicipi kopi untuk mengidentifikasi karakteristik rasa dan aroma kopi dari daerah spesifik penghasil kopi," ujar Agam menjelaskan panjang lebar. "Jadi dengan sesi ini kita dapat membedakan keunikan rasa dan aroma yang sangat berkualitas dari kopi Indonesia," imbuhnya lagi yang disambut oleh angukan para peserta dengan semangat.
Setiap peserta pun telah dilengkapi oleh dua buah sampel kopi dari yang masih berupa butiran biji kopi, hingga bubuk kopi yang masih dirahasiakan jenisnya. Sebelum mencicipi kopi, Agam berbagi info seputar kopi Indonesia yang berlangsung dengan santai dan penuh canda layaknya di rumah sendiri. "Sudah ada yang pernah coba kopi Kalimantan belum?" atau "Kenapa sih kopi dari Sumatra itu terkenal banget?", demikian pertanyaan yang kadang mewarnai sesi awal coffee cupping ini. Tak ada yang menjadi guru, semua bebas bertanya, menjawab, dan berbagi ilmu tentang kopi layaknya sebuah diskusi.
Ketika memasuki proses identifikasi kopi suasana pun makin mencair saja. Proses mencium aroma kopi cukup mengundang senyum geli para peserta. Pasalnya mereka harus membedakan aroma kedua jenis kopi yang berasal dari sampel berbeda. "Duh makin dicium kok keduanya makin sama ya aromanya," ujar Ibu Paulina kebingungan. "Kayaknya lebih kuat yang sampel B deh," ujar peserta lain menanggapi. Setelah sesi ini, peserta mulai diperbolehkan mengendus 2 angkir kopi yang masih hangat mengepul.
Kemudian sesi 'breaking the crust' pun menyusul, dimana pada sesi ini para peserta diajarkan teknik mengaduk kopi agar busa atau 'crema' mengendap ke dasar cangkir. "Wah gak boleh dicelupkan semua Bu sendoknya, jadi hanya 1/4 sendok aja yang dicelupkan ke kopi lalu diaduk," ujar Agam memperbaiki teknik mengaduk seorang peserta.
Bahkan beberapa peserta yang sudah tidak tahan menghirup wanginya kopi yang terkuak ketika diaduk pun, langsung menyeruputnya dari gelas. "Aduh jangan diminum dulu ya, nanti kita akan sampai tahap itu. Sekarang kita baru akan mengaduk dan menghirup aromanya dulu," komentar mas Irfan memperingatkan para peserta yang sudah tidak sabar ingin menyeruput kopi. Alhasil tawa dan saling komentar pun kembali pecah menambah riuh suasana.
Akhirnya proses mencicipi kopi pun dimulai. Yang menarik, mas Agam memperagakan cara menyeruput kopi yang benar dalam proses coffee cupping. "Dalam cupping menyeruput yang benar haruslah sampai berbunyi dan bibir dibuat 'monyong'. Jadi kopi langsung menyembur mengenai lidah bukan bibir," terangnya sambil memperagakan. "Slurpppp......," bunyi seruputan yang keras kontan membuat tawa peserta kembali meledak. "Yang benar memang seperti itu caranya, makin 'monyong' bibirnya makin OK loh. Ayo dicoba jangan jaim ya terutama yang wanita," ujar Irfan menambahkan. Waduh ruanganpun ramai danmeriah dengan suara 'slruup..' yang keras!
Tak sampai disitu, tiap pesertapun diminta membacakan skor tiap unit yang dinilai plus komentar umum yang semuanya dirangkum oleh Agam. 'Rasanya fruity', 'Kok yang satu ini asam, tapi yang satu lagi malah manis-manis gimana gitu', 'Yang ini spicy, yang satunya ada rasa manis ada sedikit asam'. Hasil rangkuman skor ini akhirnya membawa kesimpulan atas asal 2 jenis kopi yang dirahasiakan jenisnya. 'Yang lembut fruity itu adalah Java Jampit dan yang tajam asam itulah Sumatra', demikian tutur Agam diiring senyum puas peserta
Tibalah saat melihat proses roasting. "Wah mesinnya besar juga ya", "Tombol-tombol ini buat apa sih mas Irfan?", "Proses pemanggangannya berapa lama sih dan suhunya berapa derajat," Ya, begitulah komentar yang dilontarkan oleh para peserta ini secara silih berganti kepada mas Irfan dan Agam. Dengan sabar semua pertanyaan para peserta pun dijawab sambil mempraktekkan roasting biji kopi.
Ada yang masih asyik bertanya jawab mengenai mesin coffee micro roaster, ada pula yang sudah asyik mengobrol sambil menguyah camilan berupa jejongkong kelapa muda. Bahkan beberapa peserta yang sudah lapar berat langsung mengantre makan siang berupa ayam kremes, empal, tempe dan tahu goreng yang masih hangat. Wah wah...
Akhirnya acara ditutup oleh pengundian doorprize berupa voucher dari Anomali Coffee yang jatuh pada Ibu Paulina dan Bapak Ferry. Sedangkan untuk kostum batik terbaik jatuh kepada Ibu Rini. Wah, selamat ya buat para pemenang!
O ya, meskipun acara telah berakhir para peserta pun belum juga beranjak pulang. Ada yang masih asyik belajar meracik espresso di dapur Anomali, ada pula yang masih asyik mengobrol dan tak kenyang-kenyangnya bertanya kepada mas Irfan dan Agam sambil santai menyeruput kopi slurpp... Nah, sampai jumpa di CWS selanjutnya ya!
(dev/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN