Turun ke Sawah, Banjir Hadiah dan Oleh-oleh!

Toer de Cianjur (2)

Turun ke Sawah, Banjir Hadiah dan Oleh-oleh!

- detikFood
Jumat, 09 Nov 2007 10:52 WIB
Jakarta - Keceriaan para peserta nampaknya terus berlanjut. Perut yang kenyang ternyata mampu memompa kembali semangat para peserta ini. Rasa lelah akibat tea walk dan kunjungan ke pabrik teh, pupus sudah. Acara turun ke sawah pun berlangsung seru dan ramai. Belum lagi kunjungan ke pabrik tauco, moci dan juga Cimory. Para peserta pulang dengan puas sambil menenteng hadiah dan juga oleh-oleh!Dipimpin oleh bu Ika, pemilik pertanian Gasol, perjalanan berkeliling sawah pun dimulai. Semua peserta memakai caping ala pak tani agar terlindung dari terpaa sinar matahari. Sawah yang letaknya persis dibelakang rumah, membuat para peserta ini tak perlu harus berjalan jauh. Pematang sawah yang hanya berupa jalan setapak pun tak menjadi penghalang. "Ya, inilah sawah organik. Bedanya dengan sawah biasa, di sawah organik ini padinya lebih panjang-panjang dibandingkan sawah biasa," demikian jelas Bu Ika lewat corong pengeras suara agar dapat dapat didengar oleh semua peserta. "Masa panennya pun hanya sekali dalam setahun," lanjutnya lagi. "Wah, apa enggak rugi Bu?" tanya para peserta penasaran. "Oh tidak, karena memang harga jual beras organik ini lebih tinggi dibanding dengan beras biasa dan hasil panennya pun lebih tinggi," jawabnya sambil tersenyum. Hembusan angin cukup kencang, berhasil menerbangkan beberapa caping yang dipakai oleh peserta. Suasana yang tadinya cukup tenang pun berubah menjadi heboh, mereka pun sibuk mengejar caping-caping yang berterbangan. Rupanya semakin sore cuaca menjadi sedikit berangin, sementara awan mendung mulai menggelayuti langit Gasol. Untunglah hal tersebut tak menyurutkan sedikit pun semangat mereka. "Ini dia beras peuteuy yang tadi dimakan oleh ibu-ibu dan bapak-bapak," jelas Bu Ika sambil memperlihatkan suluran padi yang merunduk dengan butiran yang padat berisi. "Wah, padinya gemuk-gemuk ya," ujar salah satu peserta. Tak tahan mereka pun memegang dan meneliti bulir-bulir padi yang tengah menguning tersebut. "Aku mau dong pegang juga" atau "Aku mau dong difoto sama peuteuy," demikian komentar para peserta dengan semangat. Tak terasa, hampir satu jam sudah perjalanan berkeliling sawah. Bu Ika pun tak pelit untuk berbagi ilmu dan pengetahuan seputar sawah organik. Tak heran walaupun acara hampir berakhir, beberapa peserta masih asyik memberondong Bu Ika dengan aneka pertanyaan.Sekembali dari sawah, panitia telah mempersiapkan games dan juga sejumlah hadiah doorpizes . Lomba joget berpasangan di atas selembar koran pun digelar. Dengan iringan lagu 'Ondel-ondel' Beyamin S mereka pun berjoged bak penari jaipongan. Tentu saja, sambil menjaga keseimbangan agar tidak keluar dari atas koran. "Wah kok yang baju merah yang goyang cuma tangannya," protes salah satu penonton. Suasanapun menjadi riuh dan penuh canda tawa. Untuk pemenang lomba joget, Ibu Ika telah mentiapkan 12 mug dari Gasol untuk 6 pasang peserta. Wah asyiknya, ternyata semua kebagian hadiah! Tak ketinggalan detikfood pun membagi dua buah doorprize utama yaitu sebuah voucher menginap dan makan malam di Arion Swiss Bel Hotel, Bandung. Paket hadiah berupa Small Tea Set dari Weston, sebuah tea set dari Weston pun pun ikut dibawa pulang mereka yang beruntung. Sebuah Chopper, Handy Mixer dan Stick Blender dari Aletta, dibagikan kepada Anita Sari sebagai peserta dengan kostum terbaik, Ibu Yusnah peserta tertua yang paling semangat. Ibu Paulina pun mendapat hadiah karena paling semangat makan, dan beberes (termasuk membungkus makanan yang tersisa!) Wah wah, senangnya! Eits... ternyata masih ada empat buah kaos dari gasol yang tertinggal. Peserta yang belum kebagian pun kembali bersemangat. "Hadiah untuk bapak-bapaknya mana nih?" celetuk salah seorang peserta pria. Waduh, tampaknya kali ini keberuntungan sedang tidak berpihak pada peserta pria. Belum puas, para peserta pun kemudian menyerbu jualan Ibu Ika. Beras puetey, beras merah, ikan mas batita goreng garing, hingga bekatul pun menjadi serbuan mereka. Waduh, Ibu Ika dan sang suami pun sampai kuwalahan meladeni serbuan ibu-ibu ini. "Pak saya mau beras merah dong 4 kilo," teriak seorang ibu. "Saya juga ya Pak, sama bekatulnya juga," sahut yang lain. Alhasil peserta pun terlihat kerepotan membawa pulang bawaan, belum lagi dengan tambahan goodie bag dari detikfood. (Sstt...ada juga peserta yang maksa membeli caping yang dipakai ke sawah. Terpaksa bu Ika merelakan sebuah capingnya. "Buat kenang-kenangan," teriaknya sambil naik ke bus)Persinggahan berikutnya adalah mengunjungi pabrik tauco dan juga pabrik moci. Masih dengan ditemani oleh Ibu Ika, meluncurlah rombongan ini ke pusat kota Cianjur. Pabrik tauco ini sungguh diluar bayangan para peserta. "Kok seperti tempat latihan kung fu ya?" demikian komentar mereka hampir berbarengan. Pabrik tauco ini memang berupa rumah tua, dengan halaman luas dan deretan guci-guci berisi tauco bertutup seng dan diberi pemberat yang sedang difermentasikan. Para peserta pun diajak untuk berkeliling dari mulai melihat kedelai yang masih dalam wujud kasar, hingga yang telah difermentasi. "Buat tauconya berapa lama sih, Pak?" tanya seorang peserta penasaran. "Untuk membuat tauco sendiri hingga jadi kira-kira butuh 3 bulan," jawab sang pemilik pabrik tauco. "Wah lama banget ya, padahal makannya cuma sebentar," ujar mereka sambil terkekeh. Sambil mendengarkan penjelasan mengenai pabrik tauco ini, Ibu Ika pun mengedarkan es tape pada para peserta. Huaa... dalam sekejap, mereka pun mulai bergerombol mengantri es tape segar. "Hmm... enak," gumam mereka keenakan. Waktu yang semakin sempit membuat rombongan langsung meluncur menuju pabrik moci. Kedatangan peserta disambut hangat oleh Ibu Susy sang pemilik. Pabrik moci yang pembuatannya juga ala rumahan ini dari luar terlihat seperti rumah biasa. Tampak beberapa orang pekerja mengelilingi sebuah meja, sibuk mengisi dan membentuk moci. Sementara pekerja yang lain menggoreng penganan telur gabus dalam wajan besar. "Hmm... kelihatannya gampang ya. Saya cobain boleh nggak?" ujar seorang peserta. Nah, kursus kilat pembuatan mochi pun berlangsung singkat dan diikuti dengan mencicipi moci yang masih segar dan baru. Tak mau kalah, tim Good Morning Trans TV pun ikut meliput proses pembuatan moci ini. Pesertapun kembali berdesakan membeli oleh-oleh, kue moci dan wajik kelapa.Sebelum meninggalkan kota Cianjur, kami tak lupa mampir membeli oleh-oleh berupa Tauco 'Meong' dan Manisan Ny. Tan yang paling terkenal di Cianjur. "Mas saya mau asinan salaknya dong?" "Mas kok bajigurnya habis sih, cariin lagi dong?" Wah penjual manisan pun sempat kewalahan meladeni ibu-ibu ini. Hasilnya, beberapa tas palstik berisi aneka oleh-oleh pun menambah tentengan para peserta. Dalam perjalanan pulang, di daerah Cipanas hujan mulai turun deras. Bus kami pun mampir beberapa saat di Cimory Fresh Milk yang ada di daerah Cisarua. Beberapa peserta turun untuk buang air kecil dan masih ada juga yang belanja aneka camilan ringan di toko Cimory. Pihak Cimory Fresh Milk, membekali para peserta dengan 2 botol susu segar dan 4 botol yoghurt aneka rasa. "Waduh, kok banyak banget, gimana bawanya ya?," teriak seorang ibu. Perjalanan pulang pun dipenuhi dengan canda dan tawa para peserta yang sudah saling akrab. Ada yang sibuk mengemasi oleh-oleh, ada pula yang asyik membaca majalah Appetite Journey yang dibagikan secara gratis.Akhirnya kami ingin berterima kasih buat para pendukung tur ini; Banang Trading Company, PT. Cisarua Mountain Dairy (Cimory), Tim Good Morning Trans TV dan Appetite Journey. Tak lupa terima kasih juga untuk para Perkebunan teh PTP VII, khususnya Bapak Irwan dan Ari. Untuk Pertanian Organik Gasol, Ibu Ika, Ibu Wawa, Bapak Sleming dan tentu saja untuk peserta yang penuh semangat dalam mengikuti Toer de Cianjur ini. Sampai ketemu di tur yang lain ya! (dev/Odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads