Nori di Tangan Kiri, Nasi di Tangan Kanan
Senin, 15 Mei 2006 11:30 WIB

Jakarta - Cooking With Style kali ini memang istimewa. Hampir semua staf Nadaman Japanese Restaurant yang ada hotel Shangri-La Jakarta sudah bersiap dengan segala peralatan dan bahan sejak pagi. Mr. Okayasu, Ms. Yukiko, mbak Ana, pak Sopiyanto, pak Suyadi dan pak Amri terlihat sibuk mempersiapkan segalanya. Dua puluh peserta cooking class memang menjadi tamu istimewa mereka.Pak Sopiyanto yang sehari-hari penjaga gawang gerai sushi di Nadaman didampingi Mr. Okayasu membeberkan rahasia membuat sushi. "Untuk beras, kalau mau enak memang harus pakai beras Jepang. Yang ini, beras tamanishiki, harganya per kg sekitar Rp. 37.000,00," tutur pak Sopi yang akrab disebut Sopi-san. "Wuu..." komentar serentak para peserta. Pembuatan sushi shu (cuka sushi) untuk sushi meshipun dibeberkan secara jelas. "Pokoknya larutan gula, cuka ini tidak boleh sampai mendidih," demikian pesan pak Sopi. Teknik mengaduk nasi juga tak luput jadi bahasan karena tak boleh asal aduk. "Mengaduknya pelan-pelan saja dengan posisi seperti ini, jangan kencang-kencang karena nasi akan jadi lengket," tutur Sopi-san sambil menunjukkan cara mengaduk yang benar. Peserta yang dibagi menjadi 2 kelompok ini mulai mempraktekkan pembuatan Nigiri Sushi. "Nasinya cukup sekepal kecil seperti ini, ditekan pelan, dioles sedikit wasabi dan ditutup udang," chef Okayasu dengan cekatan memperagakan cara membentuknya. "Cukup 4 langkah saja, nasi jangan dikepal, ditekan berkali-kali ya...," pak Sopi mengingatkan. "Wah, kok nasi lengket semua ya?," komentar seorang peserta. Ya, urusan nasi lengket, kepalan nasi terlalu besar, bentuknya terlalu pipih atau terlalu tinggi, menjadi masalah peserta. Namun, chef Okayasu dengan sabar 'mengoreksi' semuanya. Sushi hasil karyapun segera ditata rapi di dalam kotak untuk dibawa pulang. Proses pembuatan maki sushi sedikit lebih rumit. Karena nasi harus diratakan di atas nori dan digulung dengan makishu. Urusan gulung menggulung ternyata juga tak semudah yang dibayangkan. "Wah, yang ini terlalu keras menekan nasinya, nanti sushinya jadi seperti arem-arem," komentar pak Suyadi. Dari hasil gulungan, barulah ketahuan yang benar dan kurang rapi. "Coba di balik ya...", komentar pak Sopi sambil berkeliling. Bagian bawah sushi harus rapat dan rapi. Ternyata, ada gulungan yang terbuka, gendut, tidak rata bahkan ada yang isinya keluar. Dengan sabar pak Sopi dan Suyadi membimbing peserta mengulang kembali membuat gulungan. Demikian juga saat peserta membuat temaki sushi. "Perhatikan ya, tangan kiri untuk memegang nori, harus kering dan kepalan nasi ada di tangan kanan," ujar pak Sopi sambil mengecek posisi nasi pada nori yang dibuat peserta. Di ujung acara, chef Okayasupun memberi peragaan membuat sushi berbalut daun bambu. Setelah nasi ditutup udang lalu dibungkus sehalai daun bambu dan diikat melilit, persis lepet! Namanya, Chimaki! "Yang model begini saya belum menguasai ilmunya karena rumit," tutur pak Sopi. Semua sushi hasil praktek pun ditata rapi dalam kotak yang sudah disiapkan, lengkap dengan shoyunya untuk dibawa pulang. Ms. Yukikopun menghadiahkan makishu untuk semua peserta. Acara ditutup dengan makan siang dan penarikan door prizes. Kali ini yang beruntung mendapat voucher Dim Sum Lunch di Shang Palace adalah Sally dan pak Doni (yang sudah jauh-jauh datang dari Lampung!). Nah, kalau belum kebagian tiket untuk kelas sushi yang kedua, buruan hubungi kami atau ticket box!
(ely/)