Belajar Mengulek Sambal & Membakar Ayam

Belajar Mengulek Sambal & Membakar Ayam

- detikFood
Jumat, 03 Feb 2006 11:33 WIB
Jakarta - Tak hanya gerabah dan mutiara air tawarnya yang elok tapi hidangan Lombok sangat eksotik. Dari racikan bumbu dan bahan serba segar tampil hidangan menggiurkan. Tak heran jika saat mencicip peserta "terpaksa" tambah lagi dan lagi! Nyam...nyam...enyak!Pesona Lombok sepertinya tidak hanya ada pada alamnya yang cantik dan kaya saja, masyarakat, budaya, dan jenis makanannya pun memiliki pesona yang luar biasa. Menjelajahi hidangan Lombok memang mengasyikkan, apalagi dituturkan oleh orang asli Lombok, Ibu Baiq Hartini. Seorang pengusaha restoran Ayam Taliwang yang cukup terkemuka di Jakarta. Restorannya telah tersebar di beberapa daerah di Indonesia, selain di Lombok, Jakarta, Bandung, Bali, dan beberapa kota lainnya di Indonesia, Ibu Hartini punya satu restoran Ayam Taliwang di Swiss yang dikelola oleh putranya yang sedang menuntut ilmu di sana wow...! "Lombok itu cantik lho, ibu-ibu. Udah cantik, harga-harga di sana murah lagi! Pokoknya, Bapak dan Ibu pasti suka berada di sana!", begitu ucap bu Hartini saat membuka CWS Eksklusif Tradisional. Uraian Bu Hartini disambut oleh berbagai komentar oleh para peserta. "Iya bu, saya pernah mamapir di sana kurang lebih dua tahun. Enak deh di Lombok!", komentar Bu Sari. Selesai memberikan pengantar, bu Hartini kemudian membahasa ciri khas masakan Lombok. Menurut penuturan beliau masakan Lombok yang merupakan perpaduan anatara masakan Bali dan Jawa tidak mengenal gula, alias tanpa gula sama sekali. Seperti namanya, Lombok yang dalam bahasa Jawa dikenal sebagai cabai, masakan Lombok memiliki memiliki rasa dominan pedas dan gurih. Urusan cabe hitam yang menjadi ciri khas bumbu Lombok dibahas habis-habisan sampai ke cara pembuatan yang paling sederhana.Dalam CWS tradisional Hidangan Lombok ini, semua bahan yang digunakan untuk praktik sengaja di datangkan langsung dari Lombok. Terutama cabe, terasi, bahkan kangkung yang digunakan pun didatangkan langsung dari Lombok. Dengan kata lain, hidangan yang di praktikkan ini benar-benar Lombok banget. Jangan heran kalau kursus belum dimulai peserta sudah asyik berbelanja terasi udang, terasi ikan, dan cabe hitam.Suasana jadi meriah sekaligus gaduh saat bu Hartini mengajarkan tata cara mengulek atau menghaluskan bumbu. "Nah, lihat ya kalau kemiri dihaluskan duluan jadinya seperti ini warnanya dan kalau dihaluskan belakangan jadi seperti ini," demikian jelas bu Hartini yang tak pernah lepas mengecek satu per satu hasil ulekan peserta. Sebelum dibakar, ayam kampung yang sudah dibersihkan harus dilumuri sedikit garam dan diikat dalam sebilah bambu. "Cara menusuknya begini ya...," komentar bu Hartini. Namun, ada seorang peserta yang gemas dengan cakar ayam dan langsung memotongnya. "Wah, kalau nggak pakai cakar ayam nggak bisa dilipat cantik," jelas bu Hartini. Nah lo. Rupanya cakar ayam punya fungsi supaya si ayam bisa ber-balet ria, dilipat cantik! Dua jam sudah acara CWS berlangsung, peluh sudah mulai menetes di dahi dan pipi peserta. Namun semangat tak kunjung padam, apalagi ketika peserta mulai menumis bumbu yang menebarkan aroma harum di segala penjuru hmmm...semua makin tambah semangat! Ketika bumbu milik dua orang peserta gosong, tak patah semangat mereka mencoba kembali semuanya dari awal. Hingga jam makan siang pun diundur, padahal perut kami sudah sangat keroncongan. Menu makan siang kali ini juga spesial semuanya adalah hidangan Lombok dari resto Ibu Hartini, ada ayam bakar taliwang, pelecing ayam, pelecing kangkung, dan urap khas Lombok yang rasanya...hmmm...sedap habis! Sampai-sampai bu Dini, salah seorang peserta terengah-engah keenakan sekaligus kepedasan. "Wah, nikmat banget..," komentarnya sambil mengusap keringat di dahi. Selesai memasak, peserta kembali ke dapur untuk praktek membuat pelecing Kangkung. Berbeda dengan kangkung Jakarta, kangkung Lombok, berdaun lebar besar dan batangnya juga lebih besar serta renyah. "Mungkin karena tingkat polusi di Lombok lebih kecil dibanding Jakarta," gurau Mbak Odi. Setelah selesai memasak pelecing kangkung peserta pun berkemas. Ketika ditawari untuk mencicip pelecing kangkung, para peserta memilih untuk membawa pulang saja karena perut sudah tak mampu lagi menampung. Saat pulang, kecuali ayam taliwang dan pelecing hasil praktek dikemasi, masih ada sejumlah tentengan belanjaan yang bergayut di tangah. Nah, kalau belum sempat bergabung dengan cooking class ini, nantikan saja sesi berikutnya! (lil/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads