Kamameshi, Haiik!!!

Kamameshi, Haiik!!!

- detikFood
Senin, 19 Sep 2005 10:56 WIB
Jakarta - Ada sedikit perubahan dalam tata ruang untuk Cooking With Style yang berlangsung di Lotus Room, hotel Shangri-la Jakarta. Kalau biasanya chef berserta meja dan perangkatnya ada di panggung, kini malah dibalik. Peserta duduk di atas panggung mengelilingi meja chef. Dengan cara ini semua detil dan 'rahasia' sang chef bahkan bisa dipelototi oleh peserta, mirip arena tinju! Asisten Executive Chef Nadaman Japanese Restaurant, Go Fukuda didampingi oleh pak Suyadi dan Yukiko sudah rapi di tempat 1 jam sebelum acara dimulai. Semua jenis bahan-bahan khas Jepang ditata di meja khusus lengkap dengan kemasan dan namanya. Beberapa peserta justru memanfaatkan waktu untuk berdiskusi soal bahan dengan Yukiko yang sangat lancar berbahasa Indonesia.Acara dibuka dengan penjelasan soal bahan oleh pak Suyadi, orang Jawa asli yang wajahnya sangat mirip orang Jepang. Dimuali dengan soya sauce alias kecap. 'Kecap Jepang ada 3 macam, yang kental disebut tamari, yang encer ushukuchi dan yang sedang,' jelas pak Suyadi. Semua jenis kecap diedarkan dan dicicip oleh peserta. 'Wah, kok asin banget ya,' demikian komentar seorang peserta. Dari kecap, soal kaldu bonito jadi bahasan berikutnya. 'Bisa dibikin secara langsung segar tetapi bisa dibuat dengan bumbu kaldu instan,' tutur pak Suyadi. Bumbu kaldu instan, alias dashi tersedia dalam 2 jenis. 'Yang memakai ikan katsuo disebut dashi no moto yang pakai ikan teri disebut iriko dashi,' tegas pak Suyadi yang selalu sabar menjawab pertanyaan peserta. Agar menjadi lebih jelas, pembuatan kaldu bonito, diperagakan oleh chef Fukuda secara detil.Usai membahas segala jenis bahan barulah pembuatan sajian pembuka, salad bayam alias ohitashi diperagakan oleh chef Fukuda. 'Jangan lama-lama merebus bayam supaya tidak lembek, asal sudah layu langsung diangkat,' jelas sang chef yang bisa berbahasa Indonesia. Peragaan berikutnya adalah kamameshi. 'Membuat kamameshi perlu waktu karena itu saya peragakan di awal acara,' tutur chef sambil menebar senyum. Pembuatan kaldu bonito diperagakan secara lengkap. Setelah semua siap barulah sang chef mencuci beras. 'Beras yang dipakai beras Jepang Nishiki yang paling bagus dan harganya sekitar Rp. 20.000,00 lebih per kilo,' tutur pak Suyadi. 'Woouuw...!,' teriak peserta bersamaan. Karena sangat bagus beras hanya perlu dicuci sebentar. Periuk berisi nasi dan bumbupun dimasak dengan api besar. Peserta tak henti menghujani chef dengan pertanyaan. Jawaban 'Haiik' yang artinya 'ya' selalu diucapkan saat mengawali jawaban. Pak Suyadi selalu membantu sehingga komunikasi jadi lancar. Maka peragaan topping ayam dan seafood pun mulus diperagakan oleh sang chef.Membuat chawanmushi sup telur yang mirip pudding karamel ini tidak terlalu rumit. Apalagi sang chef yang berusia 33 tahun ini sangat cekatan. Yang unik, sang chef selalu membawa catut. Bukan untuk mencabut paku tetapi untuk mengangkat panci. 'Maklum saja panci-panci Jepang tak ada yang pakai pegangan...,' demikian tutur pak Suyadi yang diiringi gelak tawa peserta. 'Untuk mengecek kematangan chawanmushi, cukup mangkuk digoyang-goyang saja, jika sudah tak bergerak berari sudah beku dan matang,' tegas pak Suyadi. Bukan hanya aroma harum kamameshi yang sedang dimasak yang menggelitik tetapi juga bermacam hidangan yang mulai disiapkan di meja santap menebarkan aroma sangat harum. Acara pun ditutup dengan penarikan hadiah. Kali ini Juliana dan Carolline berhasil membawa pulang voucher makan siang atau malam dari Shangri-la. Kecuali kamameshi, dan hidangan yang diperagakan, disajikan pula salad bebek panggang, miso sup, irisan daging tumis dan terung plus ocha yang hangat mengepul. Sebagai penutup, wasabi ice cream berwarna putih bersemu hijau disajikan dalam piring mungil. 'Wah...pedas panas ya...', komentar beberapa peserta yang tampak berurai air mata akibat 'kejutan' rasa wasabi es krim. Haik, tottemo oishi desu! Sampai jumpa di cooking class bulan depan ya... (ely/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads