Tepat pukul 10.00 pagi Sabtu kemarin semua peserta sudah berada di Il Mare, Italian Restaurant yang berlokasi di lantai bawah Hotel Mulia Senayan Jakarta. Chef Il Mare, Alessandro de Boni yang berperawakan mungil dan berhidung mancung pun membuka cooking class dengan perkenalan singkat tentang dirinya. Chef muda berbakat yang pemalu ini agaknya tak ingin membuang waktu.
"Membuat adonan pizza tidak sulit," demikian tutur sang chef mengawali pembuatan adonan kulit pizza. Kalau biasanya adonan dibuat dengan mencampur ragi dengan bahan kering lainnya, kali ini sang chef justru memasak ragi bersama susu segar. "Tak usah sampai mendidih, cukup asal panas dan ragi larut," tegasnya. Dalam beberapa menit adonan pizza sudah tercampur rata bersama air dan telur. "Adonan sudah kalis dan tinggal didiamkan selama 1 jam supaya siap digilas," tutur chef Alessandro sambil mengedarkan contoh adonan yang sudah difermentasikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melengkapi adonan yang sudah tipis bundar, Alessandro pun membagikan resep saus tomat yang merah kental dan cantik. "Warna merah ini karena memakai tomat Italia yang dikalengkan. Tinggal tambah merica, garam dan sedikit olive oil," sang chef pun menunjukkan kaleng tomat bermerk Podomoro.
Seafood yang terdiri dari udang, scallop, kerang, dan cumipun ditumis dengan olive oil yang langsung menebarkan aroma wangi menusuk hidung. Saat menaburkan seafood tumis sang chef pun mewanti-wanti peserta, "Jangan sampai terlalu kering menumisnya. Air tumisan ini perlu ditambahkan supaya kulit pizza jadi lembap dan mengembang sedikit. Hasilnya jadi renyah."
Dari adonan pizza yang sama sang chef melanjutkan dengan pembuatan Calzone alias pizza lipat. "Kalau dalam bahasa Italia, calzone berarti celana," ujarnya. Lha, pizza kok kayak celana ya? Memang pizza yang satu ini dilipat dua dan dipilin kelilingnya seperti pastel. Isiannya yang berupa sayuran hanya ditumis dengan minyak olive saja, dengan bumbu merica dan garam saja.
Berondongan pertanyaan peserta terus mengalir hingga chef Alessandro memperagakan pizza yang dibuat dari tepung gandum whole wheat yang kecokelatan. "Tepung gandum cokelat ini merupakan produksi lokal bukan impor," demikian tuturnya. Proses pembuatannya juga sama dengan kulit pizza biasa. Saat menyiapkan bayam sebagai bahan topping sang chef pun memberikan jurusnya, "bayam diblansir dulu supaya warnanya tetap hijau cantik." Tahapan memblansir daun bayam pun dituturkan lengkap untuk peserta yang belum pernah melakukannya.
Urusan seputar pizza dibahas habis sampai tak tertinggal lagi pertanyaan dari peserta baru chef Alessandro membuat pasta segar. Pasta nero alias pasta hitam yang memakai tinta cumi memang sedang trend saat ini. "Pokoknya gampang sekali mengingatnya, tiap 100g tepung terigu gunakan 1 butir telur. Jadi kalau ingin bikin banyak kalikan saja jumlahnya," demikian pesannya. Adonan tepung yang berwarna hitam pekat akhirnya tercampur rata dan siap diistirahatkan selama 1 jam.
Untuk memuaskan rasa ingin tahu peserta, sang chefpun memperagakan pembuatan pasta dengan tangan dan mesin penggiling pasta. "Kalau sudah tipis begini, tinggal dipotong-potong sesuai ukuran, bisa halus, bisa lebar bisa lebih lebar lagi. Mau fettucine, tagliatele atau parpadele semuanya bisa," tuturnya sambil mengedarkan contoh potongan pasta.
"Pasta nero ini hanya cocok diberi saus seafood, bukan yang lain. Yang kecil halus bisa dimasak aglio olio," jelasnya. Saus untuk pasta nero ini berikut proses merebusnya diperagakan secara lengkap oleh Alessandro. Kembali peserta digoda aroma wangi seafood dan pasta yang makin menggelitik saja!
Pembuatan gnocchi dari kentang dan labu kuning pun tak kalah seru. Pasta berbentuk potongan mungil ini dibuat dari kentang, labu dan tepung terigu yang dibentuk bundar, panjang dan sedikit berkerat. "Kentang dan labu harus benar-benar halus supaya tekstur gnocchi jadi lembut," demikian pesan chef Alessandro.
Sebagai bonus resep, sang chef memberikan resep saus zabaione yang mulus lembut. Tentu saja komplet dengan triknya. Saus ini kemudian dicampur dengan cokelat leleh dan disajikan dengan setup pir Xiang Lie. "Bisa dipakai pir lain dan saya paling sering memakai pear William yang manis," demikian sang chef menyudahi peragaan dessert yang menggiurkan ini.
Sebelum makan siang, hadiah-hadiah menarikpun dibagikan. Khusus untuk cooking class kali ini ada tambahan hadiah, berhubung detikfood berulangtahun ke 8 bulan ini. Ada coffee maker, ada tea sampler dan ada 5 voucher makan. Tiga voucher makan masing-masing untuk 2 orang dari hotel Mulia SenayanΒ berhasil dibawa oleh 3 orang pria beruntung yaitu : Michael, Hendrawan Surya Chandra, dan Gatot Risbianto.
Wah, acara foto bersama plus makan pizza dan pasta yang yummy menjadi penutup cooking class yang seru ini. Sampai ketemu lagi ya di cooking class berikutnya!
(dev/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN