Deden Gumilar: Cinta Makanan Tradisional

- detikFood Jumat, 11 Sep 2009 13:30 WIB
Jakarta - Sejak dini lingkungan membekalinya dengan pengalaman kuliner yang praktis. Bekerja keras dan terus berusaha membuatnya mantap dengan panggilan jiwa sebagai seorang chef. Makanan tradisional pun menjadi salah satu keahlian chef yang murah senyum ini!

Mencari Pak Deden di tempatnya bekerja Hotel JW Marriott Jakarta, tidaklah sulit. Karena ia selalu berkeliling mengecek setiap penyajian makanan yang diolah dari dapur hotel. Seperti sore itu saat Chef Deden yang menjabat sebagai Executive Sous Chef mondar-mandir di Sailendra Restaurant dalam promo makanan Yordania yang berlangsung selama bulan ramadhan ini.

Postur tubuhnya yang gemuk kekar dan wajah ramah dan rajin menebar senyum membuat setiap orang percaya jika ia memang seorang chef professional. Soal tubuhnya yang tambun, chef kelahiran Bandung ini ternyata punya cerita menarik.

"Tahun 1994-1995 saat bekerja di Banyan Tree Resort di pulau Bintan, saya berada di tempat yang tertutup dan hanya untuk orang-orang yang ingin beristirahat. Nggak ada tempat hiburan dan kegiatan lain kecuali makan. Celakanya saya makan saat malam karena sudah istirahat. Jadilah badan saya melar," tutur pak Deden sambil tergelak.

Kesuksesan yang diraihnya bukan tanpa perjuangan. Dilahirkan dari keluarga dengan 6 saudara iapun harus terlibat dalam kegiatan sang ibu mengelola catering. "Karena saudara-saudara lain tak ada yang minat maka sayapun tiap hari membantu ibu di dapur," cerita chef yang berhobi nonton film kartun ini. Kegiatan tersebut justru membuatnya paham benar dengan urusan masak-memasak dan segala seluk-beluknya.

Karena itulah untuk pendidikan ia memilih program belajar yang singkat dan cepat bisa bekerja. "Pokoknya saat itu yang saya pikirkan hanya sekolah yang cepat bisa cari kerja dan saya ingin cepat mandiri," demikian tuturnya.

Saat kerja praktek dalam studinya di NHI Bandung, chef yang suka menngoleksi buku masak ini langsung bekerja di kapal pesiar dari Oslo dan berlabuh di kepulauan Seribu. "Saat itulah saya tertarik dengan tampilan seragam chef di kapal yang memakai baju dan topi putih, gagah benar! Saya langsung memutuskan untuk berkarier sebagai chef," jelasnya sambil tersenyum.

Pengalaman kerjanya makin bertambah saat berkarir di Jakarta, Bandung, Pulau Bintan, Pekanbaru, dan Singapura. Dalam meniti karir, chef yang suka makan saat menonton film ini puntak pernah membuang waktu. "Kalau harusnya kerja 1 shift, saya justru 2 shift. Saya ingin cepat belajar mengenal bagian lain di hotel secara lengkap. Dari bagian banquette, cold dish sampai butchery," ceritanya mengenang saat awal karirnya.

Yang menarik dalam masa pelatihan pernah ia memutuskan untuk menggali makanan tradisional dengan terjun langsung ke dapur restoran Sari Bundo. "Di situ saya belajar menyiapkan bahan, meracik bumbu hingga menyajikan masakan Padang dengan cara padang asli sehingga tahu benar sebluk-beluk dapur tradisional," tutur chef yang sejak duduk di bangku SMU suka makan tahu.

Dengn karir yang makinmantap chef Deden masih menyimpan rencana masa depan yang sedang dirintisnya. "Impian saya sederhana. Ingin punya warung kecil yang mobile dan bisa memperkerjakan banyak orang. Jualannya tak macam-macam, nasi rames dan jajanan yang harganya terjangkau sehingga semua orang bisa membeli," demikian angan-angannya.

Ayah seorang anak ini beristri seorang mantan Pastry Chef. Meskipun demikian di rumah ia masih sering memasak untuk istri dan anak semata wayangnya. "Istri saya bisa memasak, kadang-kadang memasak juga tetapi kayaknya kurang pede," ceritanya sambil tersenyum.

Chef yang tak pernah berhenti belajar inipun memiliki prinsip dalam setiap kegiatannya. "Jangan merasa sudah tahu dan paling tahu jika ingin terus maju dan belajar," demikian pesannya. Karena itulah keahliannya mengolah makanan tradisional terasah bersamaan dengan kemampuannya sebagai chef professional yang menguasai segala jenis makanan.

Khusus menyambut Lebaran, Chef yang gemar menyantap makanan Sunda, Thailand dan Bali ini membagikan resep andalannya. "Pokoknya ini resep gampang, tidak bikin gemuk karena opor ini tidak berminyak dan dijamin enak," jelasnya diiringi deraian tawanya.

Opor Ayam Kampung


Bahan :
1 ekor ayam kampung/buras, potong 10 bagian
3 lembar daun jeruk purut
2 lembar daun salam
1 batang serai, memarkan
1/2 cm lengkuas
300 ml santan cair
150 ml air
1 sdm kaldu bubuk rasa ayam
Haluskan :
6 butir kemiri
8 siung bawang merah kupas
1,5cm jahe yang sudah dikupas
1/2 sdm ketumbar
1/2 sdt merica butiran
1 sdt gula pasir
1 sdt garam

Cara memasak :

  • Masak santan bersama air kira-kira 10 menit.
  • Masukan bumbu halus, didihkan.
  • Masukkan potongan ayam, daun jeruk, daun salam, serau, lengkuas.
  • Kecilkan api, masak hingga daging ayam empuk dan kuah mengental.
  • Angkat, sajikan hangat.
Untuk 6 orang

Tips:

  • Pilihlah ayam kampung yang muda dan gemuk agar daging ayam gurih dan cepat empuk.
  • Bumbu opor tidak ditumis supaya kuahnya tidak terlalu berminyak.
  • Masaklah sehari sebelum disajikan agar rasa bumbunya lebih meresap.


(dev/Odi)