Sogili Woku Daun

- detikFood Senin, 26 Apr 2010 10:45 WIB
Manado - Di Minahasa, Sulawesi Utara, ada dua jenis masakan woku. Yang pertama adalah woku blanga, yaitu resep woku yang dimasak dalam belanga atau periuk, atau panci. Yang kedua adalah masakan woku yang dibungkus daun dan kemudian dikukus atau dipanggang. Bisa juga dikukus dulu, kemudian finishing-nya di atas bara arang.

Kebanyakan, protein yang dimasak woku adalah ikan. Segala macam ikan laut maupun ikan air tawar dapat dimasak woku. Bahkan kepiting pun sering dimasak woku. Salah satu favorit saya adalah telur ikan kakap dimasak woku blanga. Wuah, totally perfectly mak nyuss! Coba bayangkan dulu, ikan kakap yang "mendarat” di Sulawesi Utara biasanya berukuran sangat besar, sehingga telurnya pun tentunya besar-besar. Selain ikan, ayam pun cocok dimasak woku blanga.

Belum lama ini, tetangga saya di Sentul City – kebetulan dia memiliki RM Dodika yang khusus menyajikan masakan Manado mengirimi saya kepala kakap woku blanga. Saya duga ikan kakapnya berukuran 10 kilogram, karena kepalanya tampak sungguh sangat besar. Ternyata, di dalamnya juga ada bagian tulang duri tengah lengkap dengan bagian lemaknya yang sungguh membuat saya merem-melek.

Apa yang saya sukai dari masakan woku ini adalah gabungan antara aroma dan citarasanya yang luar biasa. Kuahnya tanpa santan, tetapi terasa tebal. Warnanya kekuningan, dengan aroma kemangi, daun kunyit, daun pandan, dan daun jeruk. Ampun, dah! Aromanya saja sudah membuat lutut bergetar. Apalagi setelah mencecap citarasanya yang sangat kaya bumbu. Iman langsung runtuh. Pada saat seperti itu, satu-satunya diet yang dapat dijalankan adalah “diet kumaha engke”. Dietnya besok-besok saja. Nasi sebakul pun habis untuk mendampinginya.

Belum lama ini saya menemukan masakan woku daun yang juga membuat saya klepek-klepek. Kalau woku blanga berkuah, woku daun masakannya kering. Masakan yang satu ini dibuat dengan sogili, yaitu semacam belut yang berukuran besar sekali. Daging sogili sungguh kenyal dan lembut berlemak. Daun pembungkusnya bukan daun pisang, melainkan daun woka atau daun pakis hutan yang membuat aromanya semakin membuai.

Sogili yang saya temui di Manado ini ternyata khusus dibudidayakan oleh pemilik restoran. Soalnya, sudah semakin sulit mendapatkannya di pasar. Setahu saya, belut berukuran besar ini di Jawa disebut sidat. Panjangnya bisa mencapai dua meter, dan diameter penampang tubuhnya bisa mencapai 6-8 sentimeter. Warna kulitnya putih kekuningan. Di dekat Lumajang, Jawa Timur, ada sebuah warung kecil yang khusus menghidangkan sidat – dipepes, digoreng, maupun digulai. Dimakan dengan nasi jagung khas Madura.

Sogili woku daun baru saya temui di satu restoran saja, yaitu RM Puncak Manado. Tidak heran, sogili woku daun dari restoran ini sering dipesan untuk dibawa terbang ke Jakarta. Memang, hidangan ini sungguh istimewa dan wajib dicoba. Di restoran lain, biasanya woku daun dibuat dari ikan goropa (kerapu) dibungkus daun pisang. Ayo, ke Manado!Mau buat woku sendiri di rumah KLIK DISINI untuk resepnya.

(dev/Odi)