Nasi Pindang, Persilangan Rawon dan Soto

- detikFood Senin, 15 Mar 2010 16:56 WIB
Kudus - Melihat tampilannya dan mencicipi citarasanya secara sekilas, kita dapat berkesimpulan cepat bahwa sajian ini adalah persilangan antara rawon dan soto. Tetapi, sesungguhnya, nasi pindang adalah sajian yang sangat unik.

Kota Kudus memang lebih terkenal dengan soto ayam maupun soto kerbaunya yang khas. Nasi pindang seolah-olah tenggelam dalam bayang-bayang soto yang lebih populer. Terus terang, dari segi citarasa, bagi saya nasi pindang jauh lebih unggul daripada soto. Khususnya, karena ada soto dari daerah lain yang lebih lezat daripada soto kudus.

Di Kudus, agak sulit mendapatkan daging sapi. Kebanyakan yang diperjualbelikan – baik daging mentah maupun masakan siap saji – berbahan daging kerbau. Soto kerbau, sate kerbau, demikian juga pindang kerbau.

Tradisi ini memiliki sejarah yang panjang. Di masa lalu, Sunan Kudus ketika memulai syiar Islam di kawasan ini, tidak ingin melukai perasaan umat Hindu yang menganggap sapi sebagai satwa sakral atau suci. Karena itu Sunan Kudus melarang penyembelihan daging sapi untuk konsumsi. Sebagai gantinya, yang disembelih adalah kerbau.

Pindang adalah masakan berkuah yang lebih rich dan kompleks bila dibanding dengan soto. Citarasa kluwek dan kemiri, diimbangi dengan cantik oleh ketumbar dan jintan. Santan kental juga membuat masakan ini sangat gurih. Sekalipun sama-sama bernama pindang, tetapi pindang kudus sama sekali tidak memiliki kesamaan dengan pindang palembang.

Selain daging kerbau, juga jeroan kerbau dipakai untuk isi pindang. Sesaat sebelum disajikan, beberapa lembar daun so (daun melinjo muda) dimasukkan ke dalam kuahnya yang mendidih. Daun so ini merupakan bagian wajib dari sajian nasi pindang.

Di semua penjual nasi pindang di Kudus, berbagai lauk-pauk gorengan tersedia semeja penuh sebagai pendamping, antara lain: tempe dan tahu goreng, paru goreng, perkedel kentang, dan sate telur puyuh.

Di Jakarta, beberapa penjual soto kudus juga menyediakan nasi pindang. Tetapi, kebanyakan di Jakarta tidak lagi memakai daging kerbau, melainkan daging sapi, sesuai dengan local preference di Ibukota.


(dev/Odi)