Restoran Buntut Djatilegi

Restoran Buntut Djatilegi

- detikFood
Selasa, 15 Jun 2010 11:38 WIB
Jakarta - Makan tidak habis bisa menyakiti tukang cucinya

Kalau selama ini kita hanya mengenal buntut bakar dan sop buntut, sepertinya harus mampir Djatilegi Terrace and Resto yang menempati lokasi di Galaxi Mall. Di sini menu andalannya adalah serba buntut. Buntut Model apa saja bisa ditemukan di sini. Mulai Buntut Bakar, Buntut Balado, Buntut Balacan dan Buntut Goreng. Yang mengundang saya, Mas Wiwid malah tidak ada. Gantinya saya bertemu Pak Toyo dan Mas Ray pemiliknya.

Ada cerita menarik, pas saya lagi makan. Saya lihat laki-laki berkulit bersih dan masih muda. Saya pikir pasti salah satu pegawai resto ini. Rajin sekali, keluar masuk angkat piring, membersihkan meja. Dan tidak itu saja, mulai dekorasi dinding yang menceng, lantai yang licin nggak luput dari sasaran. Hmm….

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nah, pas saya kelar makan, saya dihampiri sama orang ini.

β€œGimana Mbak, cocok nggak rasanya?”

Wah, saya kaget ditanya begitu. Dia lalu memperkenalkan diri, kalau dia adalah RAY. Yah…owner Djatilegi yang asalnya dari Semarang.

Ternyata Mas Ray, orangnya sangat ramah. Dan berceritalah tentang bisnisnya yang kini sudah memiliki sekitar 5 cabang.

”Semua resep saya ciptain sendiri, lho!” akunya.

Dan tidak hanya itu, desain cafΓ© sampai interiornya semua dikerjakan sendiri. Hebatnya lagi, dia selalu menjadi tukang cuci piring kalau restonya lagi rame.

Tiba-tiba dia melihat ke arah piring saya.β€œLho kenapa kok nggak dihabisin buntut bakarnya?”

Wadoh, susah njawabnya. Soalnya kalau makan buntut bakar pake pisau dan garpu khan sulit. Nah, kebetulan hari itu saya rada jaim, jadi malas eker-eker pake tangan. Jadinya, beberapa daging yang nempel dan sulit digapai garpu saya biarin.

β€œDuh, saya suka sedih kalau ada orang nggak ngabisin. Saya selalu bertanya-tanya kenapa tidak di makan?” katanya.

Lalu dia menuturkan, jika kebagian tugas cuci piring dia selalu mengelus dada jika melihat makanan sisa yang jumlahnya cukup banyak. β€œMakanan sampai ke meja itu prosesnya panjang. Mulai belanja, pemilihan bahan, proses pengolahan, sampai menemukan rasa yang pas hingga di antar ke meja. Nah kalau lihat disia-siakan gini. Sedih rasanya!” katanya prihatin.

Lalu dia ganti melihat piring Anton. Licin dan bersih. Yang tersisa cuman daun selada sama tomat garnish.

β€œLek aku, kebiasaan makan selalu habis dan bersih. Soalnya, kalau sisa ibuku nesu !” kata Anton seperti membaca pikiran saya.

Duh, ndak enak hati saya. Eh, tapi tunggu, lihat dessert saya. Ice in The Box. Vanilla ice cream yang disajikan di atas roti dan disiram cokelat di sekelilingnya. Wuah… lihat bersih dan licin. Dan tinggal secuil rotinya (yang langsung saya emplok, begitu Mas Ray membelakangi).

Berbincang dengan Mas Ray, saya jadi menyadari betapa hancurnya hati mereka jika melihat makanan tersisa. Saya benar-benar malu karena sering pesan makanan sak karepe dewe, tapi kemudian tidak dihabiskan.

Saya seringkali lapar mata, mentang-mentang diundang dan nggak bayar, saya sering makan ugal-ugalan. Ambil mie sak umbruk, ambil ayam lima potong, masih tambah sate sepuluh tusuk, Cap cay dicampur sapi lada hitam, rasanya ndak ada puasnya, akhirnya malah sisa dipiring numpuk.

Duh, ternyata kebiasaan ini bisa menyakiti banyak orang. Mulai dari ownernya, tukang masaknya, sampai tukang cuci piring.

Okelah, saya nyadar sekarang, nah kalau kucing di rumah saya sudah tidak segendut orangnya, harap maklum. Berarti dia nggak pernah lagi dapat sisa makanan. Dan dia tidak berhak lagi menyandang nama sebagai kucing garong, dan nama penggantinya adalah Kucing Garing….*sambil geol ala Lia Trio MACAN.

Djatilegi Terrace & Resto
Galaxi Mall Lt 4 No 405
Jl Dharmahusada Indah Timur 35-37
Telp. 031 –591 5608

(gst/gst)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads